Ada 6 kebiasaan orang-orang yang paling tidak efektif:
Kehilangan sikap.
Orang-orang biasanya mendapatkan apa yang mereka harapkan dari hidup mereka. Harapkan yang terburuk, dan itulah yang akan Anda peroleh.
Action = Harapkan yang Terbaik = Dapat yang Terbaik
“Think the Positive, See the Positive, Hear the Positive Do the Positive รจ Will Get the Positive”
– C.A. Chan Lee Sean
Berhenti berkembang.
Orang-orang adalah apa mereka adanya, dan ke mana mereka menuju disebabkan oleh apa yang ada di dalam pikiran mereka.
Action = “Change”= Berubah
“Thinking = Action = Habit = Attitude = Character = Destiny”
- C.A. Chan Lee Sean
Tidak memiliki rencana dalam hidup.
Sebagaimana yang dikatakan oleh William Feather, penulis dari The Business of Life,"Ada dua jenis kegagalan: orang yang mempunyai rencana tanpa bertindak apa-apa, dan orang yang bertindak tanpa rencana apa-apa."
Action = Daily Plan, Weekly Plan, Monthly Plan, Annual Plan, Decade Plan.
“If you fail to Plan, you are planning your failure”
– Benjamin Franklin
Tidak bersedia berubah.
Beberapa orang memilih lebih baik berpegangan pada apa yang mereka benci daripada memeluk apa yang mungkin lebih baik karena mereka takut memperoleh sesuatu yang lebih buruk.
“If you Change your Thinking, you change your life”
- John Maxwell
Gagal dalam berhubungan dengan orang lain.
Orang-orang yang tidak dapat bergaul dengan orang lain mungkin tidak akan pernah bergerak maju dalam hidupnya.
Success is about Human Relation, if People like your personality, they will love what you share”
– Dale Carnegie
Tidak mau membayar harga kesuksesan.
Jalan menuju sukses selalu menanjak. Setiap orang yang ingin memperoleh, harus mengorbankan banyak.
“Success is a Journey, not a desination, and it takes Time”
-Unkwown
Penghargaan yang tertinggi untuk pekerjaan Anda bukanlah apa yang Anda dapat karenanya, tapi siapakah Anda jadinya olehnya.
Success is not just about money, but it’s about Life, If you can influence other peoples dare to think more, and then they dare to do more, and then they get more,you are a good Leader”.
Kehilangan sikap. Orang-orang biasanya mendapatkan apa yang mereka harapkan dari hidup mereka. Harapkan yang terburuk, dan itulah yang akan Anda peroleh.
Attitude is the difference maker. Attitude isn’t everything, but it is one thing that can make the difference in your life.
Businessman, philanthropist, and author W. Clement Stone stated, “There is little difference in people, but the little difference makes a big difference. The little difference is attitude. The big difference is whether it is positive or negative.”
Attitude is the difference maker in your life. About how to deal with the Big Five Attitude Obstacles everybody faces:
discouragement,change,problems,fear,and failure.
If you’re like most people, you have to deal with at least one of the issues every single day!
Let’s take this journey together by first looking at some basics about attitude.
What Is Attitude?
What is an attitude, anyway? When you hear the word, what do you think about? I think of an attitude as an inward feeling expressed by outward behavior. People always project on the outside what they feel on the inside. Some people try to mask their attitude, and they can fool others for a while. But that cover-up doesn’t last long. Attitude always wiggles its way out.
Your attitude colors every aspect of your life. It is like the mind’s paintbrush. It can paint everything in bright, vibrant colors-creating a masterpiece.
Or it can make everything dark and dreary.
Attitude is so pervasive and important that I’ve come to think of it like this:
It is the vanguard of your true self.
Its root is inward but its fruit is outward.
It is your best friend or your worst enemy.
It is more honest and consistent about you than your words.
It is your outward look based on your past experiences.
It is what draws people to you or repels them.
It is never content until it is expressed.
It is the librarian of your past.
It is the speaker of your present.
It is the prophet of your future.
There is not a single part of your current life that is not affected by your attitude. And your future will definitely be influenced by the attitude you carry with you from today forward.
“If you Change your Thinking, you Change your Life”
- John Maxwell
Wednesday, April 30, 2008
Friday, April 18, 2008
Sarjana Utama, Pendekar, Empu
Sarjana Utama, Pendekar, Empu
Jika seseorang berhasil mencapai watak perwira, atau jika seorang perwira sukses mempertahankan kesejatian keprajuritannya, ia adalah Sarjana Kehidupan.
Jika prajurit yang perwira diuji digembleng dihajar oleh pengalaman-pengalaman khusus, sehingga ia layak berada di dalam barisan Pasukan Khusus: ia adalah Sarjana Utama Kehidupan. Ia seorang Doktor Pengalaman.
Kesarjanaan dan ke-Doktor-annya tidak terlalu substansial kaitannya dengan pangkat, terlebih lagi dengan jabatan. Kesarjanaan Prajurit dengan keperwiraannya bukan suatu benda yang menempel di badan atau pakaiannya, bukan pula ditandakan oleh kursi yang didudukinya: melainkan watak, karakter, jiwa, yang sudah menyatu dengan aliran darahnya, denyut nadinya, tarikan nafasnya, ekspresi wajah dan sorot matanya, serta dengan seluruh tata nilai dan pola perilaku kehidupannya.
Jika seorang Prajurit dengan kadar keperwiraannya diletakkan pada suatu tingkat kepangkatan, maka pangkat itu tidak menambah kesejatian keprajuritan serta keperwiraannya, melainkan pangkat itu menguji keprajuritan dan keperwiraannya.
Jika seorang Prajurit dengan wibawa keperwiraannya dijunjung di atas kursi jabatan, maka jabatan itu tidak punya potensi untuk membuat keprajuritan dan keperwiraannya menjadi lebih terpuji, karena justru jabatan adalah medan uji bagi keprajuritan dan keperwiraannya.
Maka seorang prajurit, seorang Perwira, yang adalah Sarjana Utama, Doktor, Empu Kehidupan: jika menempati suatu jabatan, ia tidak tergiur oleh jabatan itu, karena keprajuritan dan keperwiraan jauh lebih mahal dari jabatan setinggi apapun. Ia menjalankan tugas jabatannya tidak untuk membanggakannya, melainkan untuk membuktikan kesetiaan keprajuritannya dan kesejatian keperwiraannya bagi manfaat yang seluas-luasnya bagi bangsa, Negara dan masyarakatnya.
Jika seorang Prajurit dengan keperwiraannya memperoleh kesempatan hidup untuk memiliki kekayaan dan harta benda yang berlimpah, maka limpahan harta itu tidak menambah apapun atas kesejatian keprajuritan dan keperwiraannya, kecuali jika harta itu ia dayagunakan untuk keperluan-keperluan kemasyarakatan yang luas.
Maka kebanggaan Prajurit di dalam kehidupan bermasyarakat bukanlah pangkatnya, jabatan dan atau kekayaannya, melainkan bukti-bukti kesejatian keprajuritannya dan praktek-praktek keteguhan keperwiraannya.
--(Emha Ainun Nadjib/10 April 2008/PmBNetDok)
Jika seseorang berhasil mencapai watak perwira, atau jika seorang perwira sukses mempertahankan kesejatian keprajuritannya, ia adalah Sarjana Kehidupan.
Jika prajurit yang perwira diuji digembleng dihajar oleh pengalaman-pengalaman khusus, sehingga ia layak berada di dalam barisan Pasukan Khusus: ia adalah Sarjana Utama Kehidupan. Ia seorang Doktor Pengalaman.
Kesarjanaan dan ke-Doktor-annya tidak terlalu substansial kaitannya dengan pangkat, terlebih lagi dengan jabatan. Kesarjanaan Prajurit dengan keperwiraannya bukan suatu benda yang menempel di badan atau pakaiannya, bukan pula ditandakan oleh kursi yang didudukinya: melainkan watak, karakter, jiwa, yang sudah menyatu dengan aliran darahnya, denyut nadinya, tarikan nafasnya, ekspresi wajah dan sorot matanya, serta dengan seluruh tata nilai dan pola perilaku kehidupannya.
Jika seorang Prajurit dengan kadar keperwiraannya diletakkan pada suatu tingkat kepangkatan, maka pangkat itu tidak menambah kesejatian keprajuritan serta keperwiraannya, melainkan pangkat itu menguji keprajuritan dan keperwiraannya.
Jika seorang Prajurit dengan wibawa keperwiraannya dijunjung di atas kursi jabatan, maka jabatan itu tidak punya potensi untuk membuat keprajuritan dan keperwiraannya menjadi lebih terpuji, karena justru jabatan adalah medan uji bagi keprajuritan dan keperwiraannya.
Maka seorang prajurit, seorang Perwira, yang adalah Sarjana Utama, Doktor, Empu Kehidupan: jika menempati suatu jabatan, ia tidak tergiur oleh jabatan itu, karena keprajuritan dan keperwiraan jauh lebih mahal dari jabatan setinggi apapun. Ia menjalankan tugas jabatannya tidak untuk membanggakannya, melainkan untuk membuktikan kesetiaan keprajuritannya dan kesejatian keperwiraannya bagi manfaat yang seluas-luasnya bagi bangsa, Negara dan masyarakatnya.
Jika seorang Prajurit dengan keperwiraannya memperoleh kesempatan hidup untuk memiliki kekayaan dan harta benda yang berlimpah, maka limpahan harta itu tidak menambah apapun atas kesejatian keprajuritan dan keperwiraannya, kecuali jika harta itu ia dayagunakan untuk keperluan-keperluan kemasyarakatan yang luas.
Maka kebanggaan Prajurit di dalam kehidupan bermasyarakat bukanlah pangkatnya, jabatan dan atau kekayaannya, melainkan bukti-bukti kesejatian keprajuritannya dan praktek-praktek keteguhan keperwiraannya.
--(Emha Ainun Nadjib/10 April 2008/PmBNetDok)
Tuesday, April 15, 2008
Haruskah Dibuat Sulit?
Matahari di padang pasir terasa membakar kulit. Hanya sesekali angin bertiup dan menerbangkan debu-debu yang memerihkan mata. Cukup membuat seorang pemuda kerepotan mengurangi samudra pasir yang membentang luas. Namun, hatinya agak tenang. Unta yang di tungganginya masih muda dan kuat. Ia berharap kendaraannya sanggup menempuh perjalanan yang jauh. Perbekalan yang dibawanya pun akan cukup membuatnya bertahan selama perjalanan. Masih separuh lagi perjalanan yang harus ditempuh pemuda itu. "Mudah-mudahan, aku selamat sampai Makkah. Dan, segera melihat Baitullah yang selama ini kurindukan," katanya penuh harap. Panggilan rukun Islam kelima itulah yang membulatkan tekadnya. Mengarungi padang pasir yang terik. Tiba-tiba, pemuda itu menatap tajam ke arah seseorang yang tengah berjalan sendirian di padang pasir. Kenapa orang itu berjalan sendiri di tempat seperti ini? Tanya pemuda itu dalam hati. Sungguh mengundang bahaya. Pemuda tersebut menghentikan untanya di dekat orang itu. Ternyata, ia seseorang lelaki tua yang berjalan terseok-seok di bawah terik matahari. Lalu, anak muda itu segera turun dari kendaraannya. "Wahai, Bapak Tua. Bapak mau pergi ke mana?" tanyanya ingin tahu. "Insya Allah, aku akan ke Baitullah," jawab orang tua itu dengan tenang. "Benarkah?!" anak muda itu terperanjat. Apa orang tua itu sudah tidak waras? Ke Baitullah dengan berjalan kaki?, ujarnya membatin. "Betul, nak, aku akan melaksanakan ibadah haji," kata lelaki tua itu pula. "Masya Allah, Baitullah itu jauh sekali dari sini. Bagaimana kalau bapak tersesat atau mati kelaparan? Lagi pula, semua orang yang kesana harus naik kendaraan. Kalau tidak naik unta, bisa naik kuda. Kalau berjalan kaki seperti bapak, kapan bapak bisa sampai ke sana?" pemuda itu tercenung.
Ia yang menunggang unta dan membawa perbekalan saja, masih merasa khawatir selama dalam perjalanan yang begitu jauh dan berbahaya. Siapapun tak akan sanggup menempuh perjalanan sejauh itu dengan berjalan kaki. Apa ia tidak salah bicara?. Atau memang orang tua itu sudah terganggu ingatannya?. "Aku juga berkendaraan, " kata lelaki tua itu mengejutkan. Si pemuda yakin kalau dari kejauhan tadi, ia melihat orang tua itu berjalan sendirian tanpa kendaraan apa pun. Tapi, Pak tua malah mengatakan dirinya memakai kendaraan. Orang ini benar-benar sudah tidak waras. Ia merasa memakai kendaraan, padahal aku lihat ia berjalan kaki..., pikir si pemuda geli. "Apa Bapak yakin kalau Bapak memakai kendaraan?" tanya pemuda itu menahan senyumnya. "Kau tidak melihat kendaraanku? " orang tua itu malah mengajukan pertanyaan yang membingungkan. Si pemuda, kini tak dapat lagi menyembunyikan kegeliannya. "Kalau begitu, apa kendaraan yang Bapak pakai?" tanyanya sambil tersenyum. Orang tua itu termenung beberapa saat. Pandangannya menyapu padang pasir yang luas. Dengan sabar, si pemuda menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut orang tua itu. Akankah ia mampu menjawab pertanyaan tadi?. "Kalau aku melewati jalan yang mudah, lurus, dan datar, kugunakan kendaraan bernama syukur. Jika aku melewati jalan yang sulit dan mendaki, kugunakan kendaraan bernama sabar," jawab orang tua itu tenang. Si pemuda ternganga dan tak berkedip mendengar kata-kata orang tua itu.
Tak sabar, pemuda itu ingin segera mendengar kalimat selanjutnya dari lelaki tua tersebut. "Jika takdir menimpa dan aku tidak sampai ke tujuan, kugunakan kendaraan ridha. Kalau aku tersesat atau menemui jalan buntu, kugunakan kendaraan tawakkal. Itulah kendaraanku menuju Baitullah," kata lelaki tua itu melanjutkan. Mendengar kata-kata tersebut, si pemuda merasa terpesona. Seolah melihat untaian mutiara yang memancar indah. Menyejukkan hati yang sedang gelisah, cemas, dan gundah. Perkataan orang tua itu amat meresap ke dalam jiwa anak muda tersebut. "Maukah Bapak naik kendaraanku? Kita dapat pergi ke Baitullah bersama-sama, " ajak si pemuda dengan sopan. Ia berharap akan mendengarkan untaian-untaian kalimat mutiara yang menyejukkan jiwa dari orang tua itu. "Terima kasih, Nak, Allah sudah menyediakan kendaraan untukku. Aku tak boleh menyia-nyiakannya. Dengan ikut menunggang kendaraanmu, aku akan menjadi orang yang selamanya bergantung kepadamu," sahut orang tua itu dengan bijak, seraya melanjutkan perjalanannya. Ternyata, orang tua itu adalah Ibrahim bin Adham, seorang ulama yang terkenal dengan kebijaksanaannya. (Disadur dari Kumpulan Kisah Teladan).
Kisah diatas mungkin bisa menjadi renungan kita manakala menghadapi kesulitan hidup. Tidak sedikit orang yang kerap mudah protes dan merasa susah menghadapi kenyataan. Setiap manusia apapun keyakinannya pasti akan dicukupi kebutuhannya, dan Allah SWT tidak pernah menghitung-hitung pemberian-Nya, namun ketika sebuah kegetiran hadir, tidak jarang mereka mengeluh, bahkan kadang merasa sebagai orang paling menderita di dunia. Mereka lupa bahwa kepahitan yang datang hanyalah sedikit dari banyak kenikmatan yang diperoleh. Kebanyakan manusia ingin bahwa hidupnya selalu dalam kondisi senang, kalau bisa sampai kematian menjemputnya. Tetapi apakah mungkin kondisi tersebut akan terjadi selama hidup seseorang?. Jawabnya, tentu tidak mungkin. Hidup manusia tidak linear, berjalan searah. Adakalanya pada suatu waktu ia merasa senang, namun pada kali lain akan merasa sebaliknya. Ada saat seseorang merasa bahagia mendapatkan buah keturunan misalnya, namun di waktu lain mengalami kehilangan anak tercintanya. Hari ini memperoleh sebuah mobil pribadi, mungkin beberapa waktu kemudian mobil tersebut hilang dibawa lari. Senyatanya tiada yang kekal dan abadi, semuanya datang silih berganti, sebagaimana malam berganti siang, dan siang berganti malam. "Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin memgambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur." (QS. Al Furqaan, 25:62).
Bersyukur kala memperoleh kebaikan, bersabar saat keburukan tiba, ridha ketika takdir menghampiri, serta tawakal ketika segala ikhtiar telah dilakukan. Karena Allah SWT telah berfirman, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) . Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan." (QS. Al Anbyaa, 21:35). Itulah amalan yang seharusnya dilakukan oleh mereka yang pandai bersyukur. Bahkan ketika seseorang menghadapi harus kondisi yang tidak menyenangkan di sekitarnya, seperti antara lain; kemaksiatan merajalela, perilaku bathil terjadi disana-sini, satu kaum bertikai dengan golongan lain, yang kuat melumat yang lemah, hukum tidak berpihak pada keadilan, serta banyak lagi. Jika sikap seseorang tidak berubah, teguh pada pendirian dan keyakinan, maka itulah orang-orang yang faham dengan keimanannya. Allah SWT berfirman, "Katakanlah: "Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya)." (QS. Al An'aam, 6:65). Semoga saja sikap bijaksana dari seorang ulama diatas mengilhami kita untuk terus menjadi manusia yang senantiasa bersyukur, hidup tiada sempit dan tanpa harus merasa sulit. Hal itu sesuai anjuran Al Qur'an Nur Karim (QS. Az Zumar, 39:66) yang berbunyi, "Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". Amien (phi).
--Oleh : Redaktur PHI--
Ia yang menunggang unta dan membawa perbekalan saja, masih merasa khawatir selama dalam perjalanan yang begitu jauh dan berbahaya. Siapapun tak akan sanggup menempuh perjalanan sejauh itu dengan berjalan kaki. Apa ia tidak salah bicara?. Atau memang orang tua itu sudah terganggu ingatannya?. "Aku juga berkendaraan, " kata lelaki tua itu mengejutkan. Si pemuda yakin kalau dari kejauhan tadi, ia melihat orang tua itu berjalan sendirian tanpa kendaraan apa pun. Tapi, Pak tua malah mengatakan dirinya memakai kendaraan. Orang ini benar-benar sudah tidak waras. Ia merasa memakai kendaraan, padahal aku lihat ia berjalan kaki..., pikir si pemuda geli. "Apa Bapak yakin kalau Bapak memakai kendaraan?" tanya pemuda itu menahan senyumnya. "Kau tidak melihat kendaraanku? " orang tua itu malah mengajukan pertanyaan yang membingungkan. Si pemuda, kini tak dapat lagi menyembunyikan kegeliannya. "Kalau begitu, apa kendaraan yang Bapak pakai?" tanyanya sambil tersenyum. Orang tua itu termenung beberapa saat. Pandangannya menyapu padang pasir yang luas. Dengan sabar, si pemuda menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut orang tua itu. Akankah ia mampu menjawab pertanyaan tadi?. "Kalau aku melewati jalan yang mudah, lurus, dan datar, kugunakan kendaraan bernama syukur. Jika aku melewati jalan yang sulit dan mendaki, kugunakan kendaraan bernama sabar," jawab orang tua itu tenang. Si pemuda ternganga dan tak berkedip mendengar kata-kata orang tua itu.
Tak sabar, pemuda itu ingin segera mendengar kalimat selanjutnya dari lelaki tua tersebut. "Jika takdir menimpa dan aku tidak sampai ke tujuan, kugunakan kendaraan ridha. Kalau aku tersesat atau menemui jalan buntu, kugunakan kendaraan tawakkal. Itulah kendaraanku menuju Baitullah," kata lelaki tua itu melanjutkan. Mendengar kata-kata tersebut, si pemuda merasa terpesona. Seolah melihat untaian mutiara yang memancar indah. Menyejukkan hati yang sedang gelisah, cemas, dan gundah. Perkataan orang tua itu amat meresap ke dalam jiwa anak muda tersebut. "Maukah Bapak naik kendaraanku? Kita dapat pergi ke Baitullah bersama-sama, " ajak si pemuda dengan sopan. Ia berharap akan mendengarkan untaian-untaian kalimat mutiara yang menyejukkan jiwa dari orang tua itu. "Terima kasih, Nak, Allah sudah menyediakan kendaraan untukku. Aku tak boleh menyia-nyiakannya. Dengan ikut menunggang kendaraanmu, aku akan menjadi orang yang selamanya bergantung kepadamu," sahut orang tua itu dengan bijak, seraya melanjutkan perjalanannya. Ternyata, orang tua itu adalah Ibrahim bin Adham, seorang ulama yang terkenal dengan kebijaksanaannya. (Disadur dari Kumpulan Kisah Teladan).
Kisah diatas mungkin bisa menjadi renungan kita manakala menghadapi kesulitan hidup. Tidak sedikit orang yang kerap mudah protes dan merasa susah menghadapi kenyataan. Setiap manusia apapun keyakinannya pasti akan dicukupi kebutuhannya, dan Allah SWT tidak pernah menghitung-hitung pemberian-Nya, namun ketika sebuah kegetiran hadir, tidak jarang mereka mengeluh, bahkan kadang merasa sebagai orang paling menderita di dunia. Mereka lupa bahwa kepahitan yang datang hanyalah sedikit dari banyak kenikmatan yang diperoleh. Kebanyakan manusia ingin bahwa hidupnya selalu dalam kondisi senang, kalau bisa sampai kematian menjemputnya. Tetapi apakah mungkin kondisi tersebut akan terjadi selama hidup seseorang?. Jawabnya, tentu tidak mungkin. Hidup manusia tidak linear, berjalan searah. Adakalanya pada suatu waktu ia merasa senang, namun pada kali lain akan merasa sebaliknya. Ada saat seseorang merasa bahagia mendapatkan buah keturunan misalnya, namun di waktu lain mengalami kehilangan anak tercintanya. Hari ini memperoleh sebuah mobil pribadi, mungkin beberapa waktu kemudian mobil tersebut hilang dibawa lari. Senyatanya tiada yang kekal dan abadi, semuanya datang silih berganti, sebagaimana malam berganti siang, dan siang berganti malam. "Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin memgambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur." (QS. Al Furqaan, 25:62).
Bersyukur kala memperoleh kebaikan, bersabar saat keburukan tiba, ridha ketika takdir menghampiri, serta tawakal ketika segala ikhtiar telah dilakukan. Karena Allah SWT telah berfirman, "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) . Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan." (QS. Al Anbyaa, 21:35). Itulah amalan yang seharusnya dilakukan oleh mereka yang pandai bersyukur. Bahkan ketika seseorang menghadapi harus kondisi yang tidak menyenangkan di sekitarnya, seperti antara lain; kemaksiatan merajalela, perilaku bathil terjadi disana-sini, satu kaum bertikai dengan golongan lain, yang kuat melumat yang lemah, hukum tidak berpihak pada keadilan, serta banyak lagi. Jika sikap seseorang tidak berubah, teguh pada pendirian dan keyakinan, maka itulah orang-orang yang faham dengan keimanannya. Allah SWT berfirman, "Katakanlah: "Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian) kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami (nya)." (QS. Al An'aam, 6:65). Semoga saja sikap bijaksana dari seorang ulama diatas mengilhami kita untuk terus menjadi manusia yang senantiasa bersyukur, hidup tiada sempit dan tanpa harus merasa sulit. Hal itu sesuai anjuran Al Qur'an Nur Karim (QS. Az Zumar, 39:66) yang berbunyi, "Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur". Amien (phi).
--Oleh : Redaktur PHI--
Wednesday, March 26, 2008
Refleksi Prie GS 25/03/08
Suatu Hari Ketika Ayat Ayat Cinta Ngetop Sekali (2)
Ayat Ayat Cinta yang ngetop, saya yang ikut repot, tepatnya sewot. Kesewotan itulah yang hendak saya ceritakan di tulisan ini seri pertama. Semua ini gara-gara saya mengenal dekat siapa penulisnya, Habiburrahman El Shirazy. Pertemanan kami sudah seperti saudara dan kami malah sedang merintis mendirikan pesantren bersama. Komentar pendek saya ada di dalam novelnya, dan pengantar panjang Kang Habib ada di novel terbaru saya : Ipung! Saya pasti bangga atas kedermawanan ini dan terbukti ia membawa banyak keberuntungan. Seorang pembaca mengirim SMS kepada saya yang intinya; ‘’saya membeli novel Ipung karena ada komentar Habiburrahman di dalamnya’’. Mestinya saya tersinggung. Tetapi sepanjang novel saya dibeli ya sudah, saya rela saja. Saya tidak menghargai ketersingungan ini terlalu tinggi sepanjang novel saya jadi laku karenanya.
Tetapi kedekatan dengan Habib itu ternyata tidak cuma mendatangkan keberuntungan melainkan juga kejengkelan. Lumayan jika ia mengirim SMS dengan pujian untuk Habib sambil membeli buku saya. Pengirim SMS dan penelpon berikutnya adalah daftar yang sama sekali sepihak: ia melulu hanya untuk Habib dan saya sekadar tempat lewat belaka.
‘’Anda kenal Kang Abik, tolong sampaikan kritik sekaligus pujian saya’’ bunyi SMS satu.
‘’Tolong saya minta HP-nya’’ pinta yang lainnya.
‘’Saya ingin wawancara, bisa minta alamatnya?’’ bujuk yang lain lagi!
‘’Saya dari TV anu, ingin mengulas panjang lebar Aya-ayat Cinta. Kami baca di milis, ada nama Anda sebagai sahabatnya. Bisa Bantu saya?’’ pinta yang lainnya lagi.
‘’Kalau ngundang Kang Abik berapa honornya. Apa Anda bisa jadi perantara?’’
‘’Tolong ulangi kirim nomor yang tadi. Ketikan Anda tampaknya kurang satu digit!’’
‘’Saya kecewa dengan film Ayat-Ayat Cinta. Tak sebagus novelnya. Tolong sampaikan pengarangnya!’’
‘’Hallo Mas Prie GS, apa kabar? Saya produser non drama TV anu di Jakarta,’’ sapa seorang penelpon di ujung sana. Kebetulan inilah TV yang memiliki banyak hutang kesanggupan pada saya. Wajar jika saya berpikir, ooo inilah waktunya TV ini melunasi hutang-hutangnya yang lama. Benarkah? Tidak. Karena inilah kalimat berikutnya:
‘’Saya setengah mati mencari nomor penulis Ayat Ayat Cinta. Nomor yang saya punya tak bisa dihubungi. Saya pikir Andalah orang yang tepat membantu saya,’’ katanya. Hahaha… sialan!
Itulah sebagian SMS dan telepon yang masuk ke HP saya. Anda tahu, saya juga penulis. Anda tahu tak ada penulis yang tidak ingin sukses. Punya buku laris, kemudian difilmkan dan meledak pula. Maka bisa Anda bayangkan betapa seluruh telepon dan SMS itu pasti tak lebih cuma mengundang kecemburuan saya belaka. Betapapun saya dan Kang Abik itu sudah seperti saudara, tetapi tak ada jaminan
bahwa saya sudah terbebas dari rasa iri atas keberhasilannya. Apalagi menyangkut soal kesuksesan, seragam belaka reaksi manusa kepadanya. Tak peduli orang dekat atau orang jauh, sukses dan kebahagiaan rawan memancing kecemburuan. Saya pasti bukan perkecualian. Kepada siapa saja yang jauh lebih sukses, saya menyampaian iri hati saya secara terbuka.
Saya tidak malu punya penyakit iri , asal ia tidak berkembang menjadi jahat, itu saja. Maka saya gembira sekali ketika meskipun iri, saya tetap memutuskan melayani para penelpon dan pengirim SMS ini sekuat yang saya bisa. Ada perasaan gembira ketika saya sanggup melakukannya. Semakin berat sebuah tekanan, ternyata semakin memunculkan perasaan berharga ketika saya sanggup mengatasinya. Maka jika ada jenis iri hati yang mendatangkan kegembiraan, saya jadi siap iri berkali-kali.
--Prie GS
Ayat Ayat Cinta yang ngetop, saya yang ikut repot, tepatnya sewot. Kesewotan itulah yang hendak saya ceritakan di tulisan ini seri pertama. Semua ini gara-gara saya mengenal dekat siapa penulisnya, Habiburrahman El Shirazy. Pertemanan kami sudah seperti saudara dan kami malah sedang merintis mendirikan pesantren bersama. Komentar pendek saya ada di dalam novelnya, dan pengantar panjang Kang Habib ada di novel terbaru saya : Ipung! Saya pasti bangga atas kedermawanan ini dan terbukti ia membawa banyak keberuntungan. Seorang pembaca mengirim SMS kepada saya yang intinya; ‘’saya membeli novel Ipung karena ada komentar Habiburrahman di dalamnya’’. Mestinya saya tersinggung. Tetapi sepanjang novel saya dibeli ya sudah, saya rela saja. Saya tidak menghargai ketersingungan ini terlalu tinggi sepanjang novel saya jadi laku karenanya.
Tetapi kedekatan dengan Habib itu ternyata tidak cuma mendatangkan keberuntungan melainkan juga kejengkelan. Lumayan jika ia mengirim SMS dengan pujian untuk Habib sambil membeli buku saya. Pengirim SMS dan penelpon berikutnya adalah daftar yang sama sekali sepihak: ia melulu hanya untuk Habib dan saya sekadar tempat lewat belaka.
‘’Anda kenal Kang Abik, tolong sampaikan kritik sekaligus pujian saya’’ bunyi SMS satu.
‘’Tolong saya minta HP-nya’’ pinta yang lainnya.
‘’Saya ingin wawancara, bisa minta alamatnya?’’ bujuk yang lain lagi!
‘’Saya dari TV anu, ingin mengulas panjang lebar Aya-ayat Cinta. Kami baca di milis, ada nama Anda sebagai sahabatnya. Bisa Bantu saya?’’ pinta yang lainnya lagi.
‘’Kalau ngundang Kang Abik berapa honornya. Apa Anda bisa jadi perantara?’’
‘’Tolong ulangi kirim nomor yang tadi. Ketikan Anda tampaknya kurang satu digit!’’
‘’Saya kecewa dengan film Ayat-Ayat Cinta. Tak sebagus novelnya. Tolong sampaikan pengarangnya!’’
‘’Hallo Mas Prie GS, apa kabar? Saya produser non drama TV anu di Jakarta,’’ sapa seorang penelpon di ujung sana. Kebetulan inilah TV yang memiliki banyak hutang kesanggupan pada saya. Wajar jika saya berpikir, ooo inilah waktunya TV ini melunasi hutang-hutangnya yang lama. Benarkah? Tidak. Karena inilah kalimat berikutnya:
‘’Saya setengah mati mencari nomor penulis Ayat Ayat Cinta. Nomor yang saya punya tak bisa dihubungi. Saya pikir Andalah orang yang tepat membantu saya,’’ katanya. Hahaha… sialan!
Itulah sebagian SMS dan telepon yang masuk ke HP saya. Anda tahu, saya juga penulis. Anda tahu tak ada penulis yang tidak ingin sukses. Punya buku laris, kemudian difilmkan dan meledak pula. Maka bisa Anda bayangkan betapa seluruh telepon dan SMS itu pasti tak lebih cuma mengundang kecemburuan saya belaka. Betapapun saya dan Kang Abik itu sudah seperti saudara, tetapi tak ada jaminan
bahwa saya sudah terbebas dari rasa iri atas keberhasilannya. Apalagi menyangkut soal kesuksesan, seragam belaka reaksi manusa kepadanya. Tak peduli orang dekat atau orang jauh, sukses dan kebahagiaan rawan memancing kecemburuan. Saya pasti bukan perkecualian. Kepada siapa saja yang jauh lebih sukses, saya menyampaian iri hati saya secara terbuka.
Saya tidak malu punya penyakit iri , asal ia tidak berkembang menjadi jahat, itu saja. Maka saya gembira sekali ketika meskipun iri, saya tetap memutuskan melayani para penelpon dan pengirim SMS ini sekuat yang saya bisa. Ada perasaan gembira ketika saya sanggup melakukannya. Semakin berat sebuah tekanan, ternyata semakin memunculkan perasaan berharga ketika saya sanggup mengatasinya. Maka jika ada jenis iri hati yang mendatangkan kegembiraan, saya jadi siap iri berkali-kali.
--Prie GS
Monday, March 24, 2008
Teladan Rumah Tangga Rasulullah SAW
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.. (QS. Al-Ahzab (33): 21)
Ketika kita menempuh bahtera rumah tangga, ketika kita sedang menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, kita dianjurkan untuk menengok kembali kecintaan kita kepada keluarga Nabi. Dalam memperkuat kecintaan kita kepada keluarga Nabi di dalam mengayuh bahtera keluarga, kita diwajibkan mencontoh perilaku kehidupan keluarga Rasulullah, baik perilaku terhadap istri maupun anak.Dalam memperlakukan istrinya, Rasulullah senantiasa menghormati dan menjaga perasaan istrinya melebihi suami-suami yang lainnya.
Suatu saat, ketika Rasulullah hendak melaksanakan salat malam, beliau dekati istrinya Aisyah. Aisyah berkata: "Di tengah malam beliau mendekatiku dan ketika kulitnya bersentuhan dengan kulitku, beliau berbisik, 'Wahai Aisyah, izinkan aku untuk beribadat kepada Robb-ku'." Kita bayangkan betapa besar penghormatan Rasul kepada istrinya sampai ketika beliau hendak melakukan salat malam, beliau terlebih dahulu meminta izin kepada istrinya pada tengah malam, di saat istrinya membutuhkannya. Dalam permintaan izin Rasulullah itulah, tergambar kecintaan dan penghormatan terhadap istrinya.
Nabi adalah sosok yang sangat sabar dalam memperlakukan istrinya. Hal ini terlihat ketika suatu hari ada salah seorang istri-nya datang dengan membawa makanan untuk dikirim kepada Rasulullah yang sedang tinggal di rumah Aisyah. Aisyah dengan sengaja menjatuhkan kiriman makanan itu hingga piringnya pecah dan makanannya jatuh berserakan. Rasulullah hanya mengatakan: "Wahai Aisyah, kifaratnya adalah mengganti makanan itu dengan makanan yang sama."
Rasulullah mengecam suami yang suka memukuli istrinya. Rasulullah berkata: "Aku heran melihat suami yang menyiksa istrinya, padahal dia lebih patut disiksa oleh Allah."
Nabi pun mengecam suami yang menghinakan istrinya, tidak menghargainya, tidak mengajaknya bicara, dan tidak mempertimbangkan istrinya dalam mengambil keputusan. Nabi bersabda, "Tidak akan pernah memuliakan wanita kecuali lelaki yang mulia dan tidak akan pernah menghinakan wanita kecuali lelaki yang hina." Karena itu, marilah kita berusaha menjadi suami yang mulia yang menempatkan istri pada tempat yang mulia.
Dalam Islam, salah satu ibadat yang paling besar nilainya adalah berkhidmat kepada istri. Rasulullah bersabda "Duduknya seorang lelaki dengan istrinya kemudian membahagiakannya, pahalanya sama dengan orang yang itikaf di mesjidku." Kita dapat saksikan, kita akan memperoleh pahala yang sama seperti orang yang itikaf di Mesjid Nabawi kalau kita duduk bersama istri dan berusaha membahagiakan, memberikan ketenteraman, dan kenyamanan padanya.
Begitu pula bagi para istri. Mereka harus menjadi seorang istri seperti Khadijah al-Kubra. Khadijah adalah sosok istri yang sangat dicintai oleh suaminya. Selama menikah dengannya, Rasulullah tidak pernah memikirkan wanita lain di samping Khadijah. Rasulullah hidup dalam suasana yang penuh dengan kecintaan dan kasih sayang.
Cinta kasih Nabi terhadap Khadijah tergambar dalam riwayat berikut ini: Setelah Khadijah meninggal dunia, Rasulullah menikah dengan Aisyah. Suatu hari, Rasulullah sedang berada di depan rumah. Tiba-tiba Rasulullah meninggalkan Aisyah, menghampiri seorang perempuan. Rasulullah memanggilnya dan menyuruh perempuan itu duduk di hadapannya kemudian mengajaknya bicara. Aisyah bertanya, "Siapakah perempuan tua ini?" Rasul menjawab, "Inilah sahabat Khadijah dulu." Lalu Aisyah berkata, "Engkau sebut-sebut juga Khadijah, padahal Allah telah menggantikannya dengan istri yang lebih baik."
Ketika itu "marah" lah Rasul, lalu beliau berkata, "Demi Allah, tidak ada yang dapat menggantikan Khadijah. Dialah yang memberikan kepadaku kebahagiaan ketika orang mencelakakanku. Dialah yang menghiburku dalam penderitaan ketika semua orang membenciku. Dialah yang memberikan seluruh hartanya kepadaku ketika semua orang menahan pemberiannya. Dan dialah yang menganugerahkan kepadaku anak ketika istri-istri yang lain tidak memberikannya." Mendengar itu Aisyah tidak dapat memberikan jawaban. Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Dalam ucapan Rasulullah itu, selain terkandung kecintaan Rasul terhadap Khadijah, juga terkandung kebaktian Khadijah terhadap suaminya. Khadijahlah yang menghibur suaminya ketika dalam perjuangan dilanda berbagai penderitaan. Khadijahlah yang mengorbankan seluruh hartanya ketika suaminya memerlukan. Khadijahlah yang mendampingi suaminya dalam suka dan duka. Sehingga, Rasul berkata, "Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan Khadijah."
Kepada para istri, jadilah seperti Khadijah yang setiap saat rela mengorbankan apa pun demi kebahagiaan suami. Yang di saat-saat suami ditimpa duka dan kesusahan siap berdiri di sampingnya, memberikan hiburan dan kebahagiaan kepadanya dengan seluruh jiwa dan raga.
Kebaktian pada suami di dalam Islam dianggap ibadah yang utama. Oleh sebab itu, hormatilah suami. Berikan kepadanya penghormatan yang sepenuhnya dan berikanlah kecintaan yang sepenuhnya. Insya Allah, Allah akan memberkati keluarga yang seperti demikian. (UJR-Fikri Yatir)
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat
Ketika kita menempuh bahtera rumah tangga, ketika kita sedang menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, kita dianjurkan untuk menengok kembali kecintaan kita kepada keluarga Nabi. Dalam memperkuat kecintaan kita kepada keluarga Nabi di dalam mengayuh bahtera keluarga, kita diwajibkan mencontoh perilaku kehidupan keluarga Rasulullah, baik perilaku terhadap istri maupun anak.Dalam memperlakukan istrinya, Rasulullah senantiasa menghormati dan menjaga perasaan istrinya melebihi suami-suami yang lainnya.
Suatu saat, ketika Rasulullah hendak melaksanakan salat malam, beliau dekati istrinya Aisyah. Aisyah berkata: "Di tengah malam beliau mendekatiku dan ketika kulitnya bersentuhan dengan kulitku, beliau berbisik, 'Wahai Aisyah, izinkan aku untuk beribadat kepada Robb-ku'." Kita bayangkan betapa besar penghormatan Rasul kepada istrinya sampai ketika beliau hendak melakukan salat malam, beliau terlebih dahulu meminta izin kepada istrinya pada tengah malam, di saat istrinya membutuhkannya. Dalam permintaan izin Rasulullah itulah, tergambar kecintaan dan penghormatan terhadap istrinya.
Nabi adalah sosok yang sangat sabar dalam memperlakukan istrinya. Hal ini terlihat ketika suatu hari ada salah seorang istri-nya datang dengan membawa makanan untuk dikirim kepada Rasulullah yang sedang tinggal di rumah Aisyah. Aisyah dengan sengaja menjatuhkan kiriman makanan itu hingga piringnya pecah dan makanannya jatuh berserakan. Rasulullah hanya mengatakan: "Wahai Aisyah, kifaratnya adalah mengganti makanan itu dengan makanan yang sama."
Rasulullah mengecam suami yang suka memukuli istrinya. Rasulullah berkata: "Aku heran melihat suami yang menyiksa istrinya, padahal dia lebih patut disiksa oleh Allah."
Nabi pun mengecam suami yang menghinakan istrinya, tidak menghargainya, tidak mengajaknya bicara, dan tidak mempertimbangkan istrinya dalam mengambil keputusan. Nabi bersabda, "Tidak akan pernah memuliakan wanita kecuali lelaki yang mulia dan tidak akan pernah menghinakan wanita kecuali lelaki yang hina." Karena itu, marilah kita berusaha menjadi suami yang mulia yang menempatkan istri pada tempat yang mulia.
Dalam Islam, salah satu ibadat yang paling besar nilainya adalah berkhidmat kepada istri. Rasulullah bersabda "Duduknya seorang lelaki dengan istrinya kemudian membahagiakannya, pahalanya sama dengan orang yang itikaf di mesjidku." Kita dapat saksikan, kita akan memperoleh pahala yang sama seperti orang yang itikaf di Mesjid Nabawi kalau kita duduk bersama istri dan berusaha membahagiakan, memberikan ketenteraman, dan kenyamanan padanya.
Begitu pula bagi para istri. Mereka harus menjadi seorang istri seperti Khadijah al-Kubra. Khadijah adalah sosok istri yang sangat dicintai oleh suaminya. Selama menikah dengannya, Rasulullah tidak pernah memikirkan wanita lain di samping Khadijah. Rasulullah hidup dalam suasana yang penuh dengan kecintaan dan kasih sayang.
Cinta kasih Nabi terhadap Khadijah tergambar dalam riwayat berikut ini: Setelah Khadijah meninggal dunia, Rasulullah menikah dengan Aisyah. Suatu hari, Rasulullah sedang berada di depan rumah. Tiba-tiba Rasulullah meninggalkan Aisyah, menghampiri seorang perempuan. Rasulullah memanggilnya dan menyuruh perempuan itu duduk di hadapannya kemudian mengajaknya bicara. Aisyah bertanya, "Siapakah perempuan tua ini?" Rasul menjawab, "Inilah sahabat Khadijah dulu." Lalu Aisyah berkata, "Engkau sebut-sebut juga Khadijah, padahal Allah telah menggantikannya dengan istri yang lebih baik."
Ketika itu "marah" lah Rasul, lalu beliau berkata, "Demi Allah, tidak ada yang dapat menggantikan Khadijah. Dialah yang memberikan kepadaku kebahagiaan ketika orang mencelakakanku. Dialah yang menghiburku dalam penderitaan ketika semua orang membenciku. Dialah yang memberikan seluruh hartanya kepadaku ketika semua orang menahan pemberiannya. Dan dialah yang menganugerahkan kepadaku anak ketika istri-istri yang lain tidak memberikannya." Mendengar itu Aisyah tidak dapat memberikan jawaban. Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Dalam ucapan Rasulullah itu, selain terkandung kecintaan Rasul terhadap Khadijah, juga terkandung kebaktian Khadijah terhadap suaminya. Khadijahlah yang menghibur suaminya ketika dalam perjuangan dilanda berbagai penderitaan. Khadijahlah yang mengorbankan seluruh hartanya ketika suaminya memerlukan. Khadijahlah yang mendampingi suaminya dalam suka dan duka. Sehingga, Rasul berkata, "Tidak ada seorang pun yang dapat menggantikan Khadijah."
Kepada para istri, jadilah seperti Khadijah yang setiap saat rela mengorbankan apa pun demi kebahagiaan suami. Yang di saat-saat suami ditimpa duka dan kesusahan siap berdiri di sampingnya, memberikan hiburan dan kebahagiaan kepadanya dengan seluruh jiwa dan raga.
Kebaktian pada suami di dalam Islam dianggap ibadah yang utama. Oleh sebab itu, hormatilah suami. Berikan kepadanya penghormatan yang sepenuhnya dan berikanlah kecintaan yang sepenuhnya. Insya Allah, Allah akan memberkati keluarga yang seperti demikian. (UJR-Fikri Yatir)
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat
Tuesday, March 18, 2008
Refleksi Prie GS 17/03/08
Suatu Hari Ketika Ayat-Ayat Cinta Ngetop Sekali (1)
Mumpung novel dan film Ayat-Ayat Cinta sedang menjadi fenomena, izinkan saya numpang terkenal. Bukan karena dua nama di balik proyek ini ada adalah orang yang dekat dengan hidup saya, melainkan karena sebuah kerepotan yang amat menganggu saya, sejak novel ini terkenal. Sebelum kerepotan itu lebih jauh saya bicarakan, baiklah saya ceritakan lebih dahulu siapa dua orang penting itu.
Pertama adalah Habiburrahman Al Shirazy, sang penulis dan kedua adalah Anif Sirsaeba, adik Habib. Anif adalah nama yang amat berjasa membawa novel kakaknya itu ke sana kemari, menawarkananya ke sana kemari, mencari endorsement ke sana-kemari, bernegosiasi ke sana kemari, sehingga Ayat-Ayat Cinta menjadi sebesar ini. Bentuk fisiknya memang tak seberapa. Orang malah cenderung salah sangka
jika ketemu Anif untuk kali pertama. Tetapi dengarkan kalau ia sudah ngomong,seluruh anggota tubuhnya akan bergerak sedemikian rupa. Matanya akan melotot dan kalau perlu ludahnya akan muncrat kesana-kemari. Ia adalah negosiator ulung. Jangan coba-coba membuat negosiasi penting dengan Habib tanpa izin adiknya. Ini bisa membuatnya marah. Semula dia adalah mahasiswa yang sering mendengar ceramah jurnalistik saya di kampusnya. Sebagai pendengar ia sering mencari perhatian saya dengan menjual keangkuhannya. Tapi ia belum tahu bahwa yang ia hadapi ini adalah Prie GS yang juga memiliki keangkuhan yang sama. Akhirnya orang yang sama-sama angkuh capek sendiri dan memutuskan menjadi kakak dan adik saja. Saya kakaknya, dia adik angkat saya. Jadi betapapun saya lebih tua darinya. Maka kalaupun lebih pintar, ia harus punya tertip menghormati saya. Apa boleh buat!
Pernah dua orang ini Habib dan Anif, diundang ke Jakarta oleh sebuah PH yang tertarik utnuk menggarap proyek Ayat-Ayat Cinta. Diundang, tetapi menurut Anif tidak diperlakukan semestinya. Diminta menunggu terlalu lama. Diangap sebagai orang desa yang amat butuh pekerjaan. Anif mestinya sudah jagoan menangani keadaan ini, tetapi dari Jakarta ia memerlukan menelpon saya. ‘’Apa yang harus saya lakukan?’’ tanyanya. ‘’Keluar dari ruangan itu. Segera! Kalau perlu tanpa pamit!’’ kata saya. ‘’Kamu ini orang miskin. Jadi jangan mau dihina. Jangan miskin dua kali!’’ tambah saya. Dan ia setuju dengan nasihat ini. Ya, dari awal, kami memang orang-orang yang mendidik diri sendiri untuk kuat di hadapan kemiskinan. Kami menjalaninya dengan gembira. Kepada orang-orang yang menghina dan meremehkan kemiskinan, kami ganti akan memandang mereka dengan sebelah mata. Agak pendendam memang. Tapi teknik ini pasti ini adalah usaha yang cerdas untuk melawan tekanan.
Lewat Anif inilah Novel Ayat-Ayat Cinta cetakan pertama dibawa ke rumah dan saya membacanya. Dalam soal menulis, saya merasa tidak kalah hebat dari Habib, maka jika bicara soal teori sastra, saya bisa lebih berbusa-busa dari Habib. Jadi saya tidak tertarik membicarakan novel Habib itu dari sudut kesusastraan. Tetapi novel ini rampung saya baca dan di beberapa bagian saya terharu dibuatnya.
Kesimpulan saya sederhana; inilah buku yang ditulis dengan ketulusan. Tumpah begitu saja. ‘’Kakakmu ini Hamka kecil,’’ gumam saya saat itu. Cuma berguma memang. Tetapi kalimat itulah yang kini ada sebagai endorsement di novel Ayat-ayat Cinta cetakan berikutnya.
Waktu itu saya benar-benar berguman karena secara disiplin bercerita, bahkan sastrawan sebesar Hamka saya anggap begitu begitu saja. Saya merasa lebih bisa mengarang-ngarang plot yang dramatik, kalimat-kalimat yang kenes dan diksi yang gaya. Tetapi Hamka tidak. Ia lurus saja seperti layaknya gaya orang tua. Tetapi membaca novelnya, air mata saya bisa berleleran. Habib di mata saya, memiliki konteks seperti ini. Oo, ternyata ada yang lebih tua umurnya dari apa yang saya
pahami sebagai sastra itu. Ada sesuatu yang lebih bertenaga dari sekadar teori sastra. Untuk sementara saya ingin menyebutnya sebagai jiwa yang menyeluruh. Tak peduli apapun kata-katamu, jalau jiwamu tumpah seluruh, ia akan menjadi gelombang yang luar biasa, pikirku. Tetapi aku tidak cukup puas dengan kata-kata sendiri ini. Aku membutuhkan seorang seperti Ignas Kleden untuk mau
menjelaskan kepada khalayak dengan bahasa yang lebih sekolahan. Ignas adalah manusia sekolahan yang saya kagumi. Ia punya hutang pada saya untuk kejelasan ini.
Oya, saya masih akan berceirta tentang Habib dan Anif, tetapi terpaksa harus bersambung di kolom berikutnya. Tunggu saja!
--Prie GS
Mumpung novel dan film Ayat-Ayat Cinta sedang menjadi fenomena, izinkan saya numpang terkenal. Bukan karena dua nama di balik proyek ini ada adalah orang yang dekat dengan hidup saya, melainkan karena sebuah kerepotan yang amat menganggu saya, sejak novel ini terkenal. Sebelum kerepotan itu lebih jauh saya bicarakan, baiklah saya ceritakan lebih dahulu siapa dua orang penting itu.
Pertama adalah Habiburrahman Al Shirazy, sang penulis dan kedua adalah Anif Sirsaeba, adik Habib. Anif adalah nama yang amat berjasa membawa novel kakaknya itu ke sana kemari, menawarkananya ke sana kemari, mencari endorsement ke sana-kemari, bernegosiasi ke sana kemari, sehingga Ayat-Ayat Cinta menjadi sebesar ini. Bentuk fisiknya memang tak seberapa. Orang malah cenderung salah sangka
jika ketemu Anif untuk kali pertama. Tetapi dengarkan kalau ia sudah ngomong,seluruh anggota tubuhnya akan bergerak sedemikian rupa. Matanya akan melotot dan kalau perlu ludahnya akan muncrat kesana-kemari. Ia adalah negosiator ulung. Jangan coba-coba membuat negosiasi penting dengan Habib tanpa izin adiknya. Ini bisa membuatnya marah. Semula dia adalah mahasiswa yang sering mendengar ceramah jurnalistik saya di kampusnya. Sebagai pendengar ia sering mencari perhatian saya dengan menjual keangkuhannya. Tapi ia belum tahu bahwa yang ia hadapi ini adalah Prie GS yang juga memiliki keangkuhan yang sama. Akhirnya orang yang sama-sama angkuh capek sendiri dan memutuskan menjadi kakak dan adik saja. Saya kakaknya, dia adik angkat saya. Jadi betapapun saya lebih tua darinya. Maka kalaupun lebih pintar, ia harus punya tertip menghormati saya. Apa boleh buat!
Pernah dua orang ini Habib dan Anif, diundang ke Jakarta oleh sebuah PH yang tertarik utnuk menggarap proyek Ayat-Ayat Cinta. Diundang, tetapi menurut Anif tidak diperlakukan semestinya. Diminta menunggu terlalu lama. Diangap sebagai orang desa yang amat butuh pekerjaan. Anif mestinya sudah jagoan menangani keadaan ini, tetapi dari Jakarta ia memerlukan menelpon saya. ‘’Apa yang harus saya lakukan?’’ tanyanya. ‘’Keluar dari ruangan itu. Segera! Kalau perlu tanpa pamit!’’ kata saya. ‘’Kamu ini orang miskin. Jadi jangan mau dihina. Jangan miskin dua kali!’’ tambah saya. Dan ia setuju dengan nasihat ini. Ya, dari awal, kami memang orang-orang yang mendidik diri sendiri untuk kuat di hadapan kemiskinan. Kami menjalaninya dengan gembira. Kepada orang-orang yang menghina dan meremehkan kemiskinan, kami ganti akan memandang mereka dengan sebelah mata. Agak pendendam memang. Tapi teknik ini pasti ini adalah usaha yang cerdas untuk melawan tekanan.
Lewat Anif inilah Novel Ayat-Ayat Cinta cetakan pertama dibawa ke rumah dan saya membacanya. Dalam soal menulis, saya merasa tidak kalah hebat dari Habib, maka jika bicara soal teori sastra, saya bisa lebih berbusa-busa dari Habib. Jadi saya tidak tertarik membicarakan novel Habib itu dari sudut kesusastraan. Tetapi novel ini rampung saya baca dan di beberapa bagian saya terharu dibuatnya.
Kesimpulan saya sederhana; inilah buku yang ditulis dengan ketulusan. Tumpah begitu saja. ‘’Kakakmu ini Hamka kecil,’’ gumam saya saat itu. Cuma berguma memang. Tetapi kalimat itulah yang kini ada sebagai endorsement di novel Ayat-ayat Cinta cetakan berikutnya.
Waktu itu saya benar-benar berguman karena secara disiplin bercerita, bahkan sastrawan sebesar Hamka saya anggap begitu begitu saja. Saya merasa lebih bisa mengarang-ngarang plot yang dramatik, kalimat-kalimat yang kenes dan diksi yang gaya. Tetapi Hamka tidak. Ia lurus saja seperti layaknya gaya orang tua. Tetapi membaca novelnya, air mata saya bisa berleleran. Habib di mata saya, memiliki konteks seperti ini. Oo, ternyata ada yang lebih tua umurnya dari apa yang saya
pahami sebagai sastra itu. Ada sesuatu yang lebih bertenaga dari sekadar teori sastra. Untuk sementara saya ingin menyebutnya sebagai jiwa yang menyeluruh. Tak peduli apapun kata-katamu, jalau jiwamu tumpah seluruh, ia akan menjadi gelombang yang luar biasa, pikirku. Tetapi aku tidak cukup puas dengan kata-kata sendiri ini. Aku membutuhkan seorang seperti Ignas Kleden untuk mau
menjelaskan kepada khalayak dengan bahasa yang lebih sekolahan. Ignas adalah manusia sekolahan yang saya kagumi. Ia punya hutang pada saya untuk kejelasan ini.
Oya, saya masih akan berceirta tentang Habib dan Anif, tetapi terpaksa harus bersambung di kolom berikutnya. Tunggu saja!
--Prie GS
Tuesday, March 11, 2008
Ketika Itulah Rasulullah saw menangis
For all my friend, this is a little tausyiah for this week....... please have a nice read....
Ketika Itulah Rasulullah saw menangis
PADA suatu hari Rasulullah SAW datang ke masjid Bani Zhafar bersama Abdullah bin Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, dan sahabat lain. Dia perintahkan Ibnu Mas'ud membaca Alquran.
"Apakah aku harus membacakan padamu Alquran, padahal Alquran itu diturunkan kepadamu?" tanya Ibnu Mas'ud.
"Benar, tetapi aku ingin mendengarkan dari orang lain," sabda Nabi.
Ibnu Mas'ud mulai bacaannya dari surat an-Nisa. Ketika sampai kepada ayat 41: "Maka bagaimana sekiranya Kami datangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami datangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu."
Ibnu Mas'ud mengangkat kepala dan melihat Rasulullah terisak-isak menangis, sehingga berguncang janggutnya. Air matanya membasahi pipi.
Terdengar Nabi bergumam, "Benar, Tuhanku. Aku bersaksi untuk mereka yang berada di tengah-tengahku sekarang. Bagaimana aku harus bersaksi dengan mereka yang tidak aku saksikan?"
Riwayat di atas saya kutip dari buku Indaidzin 'Bakaa al-Nabi SAW (Pada Saat Itulah Nabi Menangis) tulisan Abu Abd al-Rahman Khalid.
Nabi menangis ketika mendengarkan bacaan Alquran. Nabi melanjutkan tradisi para Nabi sebelumnya dan mencontohkan kebiasaan orang saleh sepanjang sejarah manusia. Tradisi orang-orang yang Allah anugerahkan kepada mereka kebahagiaan. Orang-orang yang Allah anugerahkan kepada mereka kenikmatan, yakni para Nabi dari keturunan Adam, dan dari antara orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan di antara orang-orang yang Kami tunjuki dan Kami pilih. (Tanda mereka itu) ialah apabila dibacakan ayat-ayat Yang Mahakasih mereka merebahkan diri, bersujud, sambil menangis. (Maryam: 58).
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (Q.S Maryam: 58).
Ibnu Katsir menerangkan tafsir ayat di atas, "Yakni, apabila mereka mendengarkan firman Tuhan yang mengandung hujah-hujahNya, dalil-dalil-Nya, dan bukti-bukti-Nya, mereka bersujud kepada Tuhan dengan penuh kerendahan hati seraya memuji-Nya dan mensyukuri anugerah Tuhan yang agung pada mereka."
Kata bukiy dalam ayat ini artinya bentuk jamak dari baaki yang artinya orang menangis. Karena itu, para ulama ijmak tentang disyariatkannya bersujud ketika sampai pada ayat ini, mengambil contoh dan mengikuti tradisi orang-orang saleh itu. (Tafsir Ibn Katsir 3:131).
Pada suatu kesempatan Nabi SAW membacakan ayat-ayat yang memuji rahib Nasrani. Pujian Alquran untuk para rahib itu begitu indah sehingga sahabat bingung dan mempertanyakan kenapa Islam tidak menyuruh umatnya jadi rahib saja.
Nabi SAW membacakan ayat-ayat itu bukan untuk merahibkan kita, tetapi untuk meniru perilaku mereka. Apa perilaku mereka?
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Maidah: 82-83 :
82.Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani." Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.
83. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.). (Q.S.Al-Maidah: 82-83).
Di antara perilaku rahib yang harus kita tiru adalah kamu lihat mereka mencurahkan air mata ketika mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (dalam hal ini Alquran). Nabi SAW menangis ketika Alquran dibacakan kepadanya, padahal kepadanya Alquran diturunkan. Para rahib menangis ketika mendengar Alquran, padahal itu bukan kitab yang diturunkan kepada Nabi mereka.
Lebih 1.000 tahun setelah Alquran turun, Jeffry Lang, profesor matematika di AS mencari agama dengan sikap kritis. Dia bertemu dengan Alquran dan takjub dengan jawaban Alquran atas pertanyaannya. Di hadapan Tuhan, ketika dia salat pertama kali, waktu membaca Al-Fatihah, dia menangis terisak-isak. Muallaf baru ini ternyata lebih dekat dengan contoh para Nabi ketimbang kita.
Apa yang harus kita lakukan supaya bisa membaca Alquran seperti Lang? Muhammad Iqbal, filsuf Islam dari anak benua India, menjawab dengan kisah hidupnya. Pada waktu kecil, dia suka membaca Alquran bakda subuh. Ayahnya selalu menganggap dia belum membaca Alquran.
Ketika dia bertanya, ayahnya berkata, "Bacalah Alquran seakan-akan dia diturunkan untuk kamu!" Supaya Anda bisa menangis, masukkan ke hatimu bahwa Tuhan sedang menyapa kamu, berdialog dengan kamu, dan menjawab semua pertanyaan kamu.
Wallaahu a'lamu bishshawaab.
(KH Jalaluddin Rakhmat)
Ketika Itulah Rasulullah saw menangis
PADA suatu hari Rasulullah SAW datang ke masjid Bani Zhafar bersama Abdullah bin Mas'ud, Mu'adz bin Jabal, dan sahabat lain. Dia perintahkan Ibnu Mas'ud membaca Alquran.
"Apakah aku harus membacakan padamu Alquran, padahal Alquran itu diturunkan kepadamu?" tanya Ibnu Mas'ud.
"Benar, tetapi aku ingin mendengarkan dari orang lain," sabda Nabi.
Ibnu Mas'ud mulai bacaannya dari surat an-Nisa. Ketika sampai kepada ayat 41: "Maka bagaimana sekiranya Kami datangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami datangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu."
Ibnu Mas'ud mengangkat kepala dan melihat Rasulullah terisak-isak menangis, sehingga berguncang janggutnya. Air matanya membasahi pipi.
Terdengar Nabi bergumam, "Benar, Tuhanku. Aku bersaksi untuk mereka yang berada di tengah-tengahku sekarang. Bagaimana aku harus bersaksi dengan mereka yang tidak aku saksikan?"
Riwayat di atas saya kutip dari buku Indaidzin 'Bakaa al-Nabi SAW (Pada Saat Itulah Nabi Menangis) tulisan Abu Abd al-Rahman Khalid.
Nabi menangis ketika mendengarkan bacaan Alquran. Nabi melanjutkan tradisi para Nabi sebelumnya dan mencontohkan kebiasaan orang saleh sepanjang sejarah manusia. Tradisi orang-orang yang Allah anugerahkan kepada mereka kebahagiaan. Orang-orang yang Allah anugerahkan kepada mereka kenikmatan, yakni para Nabi dari keturunan Adam, dan dari antara orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan di antara orang-orang yang Kami tunjuki dan Kami pilih. (Tanda mereka itu) ialah apabila dibacakan ayat-ayat Yang Mahakasih mereka merebahkan diri, bersujud, sambil menangis. (Maryam: 58).
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (Q.S Maryam: 58).
Ibnu Katsir menerangkan tafsir ayat di atas, "Yakni, apabila mereka mendengarkan firman Tuhan yang mengandung hujah-hujahNya, dalil-dalil-Nya, dan bukti-bukti-Nya, mereka bersujud kepada Tuhan dengan penuh kerendahan hati seraya memuji-Nya dan mensyukuri anugerah Tuhan yang agung pada mereka."
Kata bukiy dalam ayat ini artinya bentuk jamak dari baaki yang artinya orang menangis. Karena itu, para ulama ijmak tentang disyariatkannya bersujud ketika sampai pada ayat ini, mengambil contoh dan mengikuti tradisi orang-orang saleh itu. (Tafsir Ibn Katsir 3:131).
Pada suatu kesempatan Nabi SAW membacakan ayat-ayat yang memuji rahib Nasrani. Pujian Alquran untuk para rahib itu begitu indah sehingga sahabat bingung dan mempertanyakan kenapa Islam tidak menyuruh umatnya jadi rahib saja.
Nabi SAW membacakan ayat-ayat itu bukan untuk merahibkan kita, tetapi untuk meniru perilaku mereka. Apa perilaku mereka?
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Maidah: 82-83 :
82.Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani." Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.
83. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.). (Q.S.Al-Maidah: 82-83).
Di antara perilaku rahib yang harus kita tiru adalah kamu lihat mereka mencurahkan air mata ketika mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (dalam hal ini Alquran). Nabi SAW menangis ketika Alquran dibacakan kepadanya, padahal kepadanya Alquran diturunkan. Para rahib menangis ketika mendengar Alquran, padahal itu bukan kitab yang diturunkan kepada Nabi mereka.
Lebih 1.000 tahun setelah Alquran turun, Jeffry Lang, profesor matematika di AS mencari agama dengan sikap kritis. Dia bertemu dengan Alquran dan takjub dengan jawaban Alquran atas pertanyaannya. Di hadapan Tuhan, ketika dia salat pertama kali, waktu membaca Al-Fatihah, dia menangis terisak-isak. Muallaf baru ini ternyata lebih dekat dengan contoh para Nabi ketimbang kita.
Apa yang harus kita lakukan supaya bisa membaca Alquran seperti Lang? Muhammad Iqbal, filsuf Islam dari anak benua India, menjawab dengan kisah hidupnya. Pada waktu kecil, dia suka membaca Alquran bakda subuh. Ayahnya selalu menganggap dia belum membaca Alquran.
Ketika dia bertanya, ayahnya berkata, "Bacalah Alquran seakan-akan dia diturunkan untuk kamu!" Supaya Anda bisa menangis, masukkan ke hatimu bahwa Tuhan sedang menyapa kamu, berdialog dengan kamu, dan menjawab semua pertanyaan kamu.
Wallaahu a'lamu bishshawaab.
(KH Jalaluddin Rakhmat)
Tuesday, March 04, 2008
Refleksi Prie GS 04/03/2008
Selimut dalam Tidurku
Dinihari ketika udara dingin sekali. Sudah saatnya bangun pagi, tetapi tidur masih enak sekali. Jangankan memaksa bangun, untuk bergerak saja rasanya sayang sekali. Khawatir kualitas tidur yang sedang enak-enaknya rusak seketika. Sebenarnya aku tidak benar-benar tidur karena kesadaran sudah separoh jaga. Tetapi juga bukan benar-benar terbangun karena kantuk masih begitu hebatnya. Inilah yang menjengkelkan dari tidur,kenyenyakannya justru suka datang di jam-jam ketika kita harus bangun dan bekerja.
Begitulah pagiku saat itu. Sudah saatnya bangun mestinya tetapi kantuk masih menggoda. Sekali lagi; jangankan bangun, bahkan untuk menarik selimut pun, butuh kemauan ekstra. Sekali waktu untuk sekali tarikan tak apa-apa, tetapi jika telah berkali-kali ditarik, selimut ini belum rapat juga, kacau jadinya. Lebih baik menyerah pada kantuk, walau masih ada sisa tubuh yang terbuka daripada seluruh tidur rusak semua. Sisa tubuh itu bisa cuma ujung dengkul, bisa cuma ujung kaki, atau sekadar tengkuk, tetapi astaga, itulah lubang-lubang angin , yang membuat tidur dahsyat ini tak berjalan sempurna. Lubang angin itu terasa seperti teror yang mengejek senantiasa, tetapi entah kenapa aku tak berdaya mencegahnya. Apalagi aku amat gemar berselimit sarung. Dan inilah watak sarung itu; ditarik di sini merosot di sana. Nutup di sana bolong di sini. Menjengkelkan sekali.
Tidur yang begini kemudian menjadi penuh paradoks: ia terlalu nyenyak untuk dibuat bangun, tetapi terlalu terganggu untuk dibuat nyenyak. Sebetulnya butuh langkah sederhana untuk mengatasinya, tinggal bangun, menata diri, lalu tidur lagi. Tetapi siapa bilang langkah ini sederhana. Karena jika aku sudah mampu terbangun, tidur nyenyak itu pasti sudah tak ada. Itulah misteri tidur, ia tak bisa bangun di tengah jalan. Itulah kenapa seorang yang dibangunkan paksa bisa marah sekali. Jika pun ia bis menahan marah, tubuhnya suka gagal menahan gelisah. Itulah kenapa Rockefeller meminta siapa saja tak menganggu tidurnya meskipun ia presiden Amerika.
Maka kuteruskan tidur konyolku itu. Tidur nyenyak sambil jengkel karena lubang angin masih menyembur di kakiku. Tetapi pada saat itulah berkah Tuhan datang, istriku yang telah terbangun tampaknya melihat posisi tubuh suaminya yang payah.
Centang perenang sedemikian rupa sehinga sang selimut itu tak memadai. Ditatanya selimut itu pelan sekali khawatir aku terjaga, hingga kehangatanku merata. Ia menyangka aku sedang amat terlena. Padahal ia salah sangka. Aku mengerti seluruh ekspresinya, gerakan tangannya, sikap hati-hatinya. Ia hendak menjaga suaminya seperti tengah melindungi seorang anak-anaknya. Amboi, betapa aku tega menipunya!
Sebetulnya sambil sok terlena, aku sudah sangat ingin tertawa. Istriku sedang
terpedaya dengan kenyenyakanku yang semu itu. Bahkan sambil nyenyak begitu,
diam-diam aku tegang dan berdoa, agar ia mau menata selimutku. Kenapa tegang?
Karena doa semacam ini tidak mudah dikalbulkan. Alasannya objektif saja. Pertama hari memang sudah pagi. Tidak pantas jika orang tua tidak mendahului
anak-anaknya bangun pagi. Tidak pantas membiarkan istri sendirian berkutat dengan tumpukan tugas pagi, sementara aku pura-pura tidak mengerti. Istri yang cerdas, pasti akan pura-pura menarik selimut itu tanpa sengaja sehingga kedinginan akan menghajar sekujur tubuh suaminya. Dengan begitu ia akan gagal melanjutkan tidur salah waktunya dan bisa membantu kerepotannya. Tetapi tidak. Doaku ternyata dikabulkan. Istriku merapatkan selimut itu ke seluruh tubuhku. Sejak itu kualitas kemalasanku menjadi amat sempurna.
Cuma satu tarikan selimut, aku merasa amat menikmati kemanjaan yang belum kurasa sebelumnya. Memang cuma satu tarikan. Tetapi di dalam garis penarik itu memuat sekali titik-titik yang lengkap isinya. Ada pemberian tanpa butuh balasan, ada tindakan saling melindungi dan memanjakan, ada kerelaan membiarkan pihak lain menikmati rezeki walau itu cuma berupa kenyenyakan. Sejak saat itu, aku
bergairah sekali mencari orang-orang yang tertidur di sebelahku untuk kubenahi
selimutnya. Walau mungkin orang-orang itu tidak sedang benar-benar tertidur,
sehingga mengerti perbuatanku. Tapi apa peduliku, kami bisa pura-pura untuk tidak saling tahu. Tak apa saling berpura pura jika hasilnya, adalah kebahagiaan
bersama yang begitu jelasnya.
Dinihari ketika udara dingin sekali. Sudah saatnya bangun pagi, tetapi tidur masih enak sekali. Jangankan memaksa bangun, untuk bergerak saja rasanya sayang sekali. Khawatir kualitas tidur yang sedang enak-enaknya rusak seketika. Sebenarnya aku tidak benar-benar tidur karena kesadaran sudah separoh jaga. Tetapi juga bukan benar-benar terbangun karena kantuk masih begitu hebatnya. Inilah yang menjengkelkan dari tidur,kenyenyakannya justru suka datang di jam-jam ketika kita harus bangun dan bekerja.
Begitulah pagiku saat itu. Sudah saatnya bangun mestinya tetapi kantuk masih menggoda. Sekali lagi; jangankan bangun, bahkan untuk menarik selimut pun, butuh kemauan ekstra. Sekali waktu untuk sekali tarikan tak apa-apa, tetapi jika telah berkali-kali ditarik, selimut ini belum rapat juga, kacau jadinya. Lebih baik menyerah pada kantuk, walau masih ada sisa tubuh yang terbuka daripada seluruh tidur rusak semua. Sisa tubuh itu bisa cuma ujung dengkul, bisa cuma ujung kaki, atau sekadar tengkuk, tetapi astaga, itulah lubang-lubang angin , yang membuat tidur dahsyat ini tak berjalan sempurna. Lubang angin itu terasa seperti teror yang mengejek senantiasa, tetapi entah kenapa aku tak berdaya mencegahnya. Apalagi aku amat gemar berselimit sarung. Dan inilah watak sarung itu; ditarik di sini merosot di sana. Nutup di sana bolong di sini. Menjengkelkan sekali.
Tidur yang begini kemudian menjadi penuh paradoks: ia terlalu nyenyak untuk dibuat bangun, tetapi terlalu terganggu untuk dibuat nyenyak. Sebetulnya butuh langkah sederhana untuk mengatasinya, tinggal bangun, menata diri, lalu tidur lagi. Tetapi siapa bilang langkah ini sederhana. Karena jika aku sudah mampu terbangun, tidur nyenyak itu pasti sudah tak ada. Itulah misteri tidur, ia tak bisa bangun di tengah jalan. Itulah kenapa seorang yang dibangunkan paksa bisa marah sekali. Jika pun ia bis menahan marah, tubuhnya suka gagal menahan gelisah. Itulah kenapa Rockefeller meminta siapa saja tak menganggu tidurnya meskipun ia presiden Amerika.
Maka kuteruskan tidur konyolku itu. Tidur nyenyak sambil jengkel karena lubang angin masih menyembur di kakiku. Tetapi pada saat itulah berkah Tuhan datang, istriku yang telah terbangun tampaknya melihat posisi tubuh suaminya yang payah.
Centang perenang sedemikian rupa sehinga sang selimut itu tak memadai. Ditatanya selimut itu pelan sekali khawatir aku terjaga, hingga kehangatanku merata. Ia menyangka aku sedang amat terlena. Padahal ia salah sangka. Aku mengerti seluruh ekspresinya, gerakan tangannya, sikap hati-hatinya. Ia hendak menjaga suaminya seperti tengah melindungi seorang anak-anaknya. Amboi, betapa aku tega menipunya!
Sebetulnya sambil sok terlena, aku sudah sangat ingin tertawa. Istriku sedang
terpedaya dengan kenyenyakanku yang semu itu. Bahkan sambil nyenyak begitu,
diam-diam aku tegang dan berdoa, agar ia mau menata selimutku. Kenapa tegang?
Karena doa semacam ini tidak mudah dikalbulkan. Alasannya objektif saja. Pertama hari memang sudah pagi. Tidak pantas jika orang tua tidak mendahului
anak-anaknya bangun pagi. Tidak pantas membiarkan istri sendirian berkutat dengan tumpukan tugas pagi, sementara aku pura-pura tidak mengerti. Istri yang cerdas, pasti akan pura-pura menarik selimut itu tanpa sengaja sehingga kedinginan akan menghajar sekujur tubuh suaminya. Dengan begitu ia akan gagal melanjutkan tidur salah waktunya dan bisa membantu kerepotannya. Tetapi tidak. Doaku ternyata dikabulkan. Istriku merapatkan selimut itu ke seluruh tubuhku. Sejak itu kualitas kemalasanku menjadi amat sempurna.
Cuma satu tarikan selimut, aku merasa amat menikmati kemanjaan yang belum kurasa sebelumnya. Memang cuma satu tarikan. Tetapi di dalam garis penarik itu memuat sekali titik-titik yang lengkap isinya. Ada pemberian tanpa butuh balasan, ada tindakan saling melindungi dan memanjakan, ada kerelaan membiarkan pihak lain menikmati rezeki walau itu cuma berupa kenyenyakan. Sejak saat itu, aku
bergairah sekali mencari orang-orang yang tertidur di sebelahku untuk kubenahi
selimutnya. Walau mungkin orang-orang itu tidak sedang benar-benar tertidur,
sehingga mengerti perbuatanku. Tapi apa peduliku, kami bisa pura-pura untuk tidak saling tahu. Tak apa saling berpura pura jika hasilnya, adalah kebahagiaan
bersama yang begitu jelasnya.
Prie GS
Wednesday, February 27, 2008
Ingin Khusyuk? Hindari yang Haram!
When I googling to find KH. Anwar Sanusi contact address, I found interesting article from him..... I think, this article should be share to you...
KH Anwar Sanusi:
Ingin Khusyuk? Hindari yang Haram!
Hadis Rasulullah SAW yang berbunyi, ''Shalluu kamaa ra-aytummuni ushalli (shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku melakukan shalat).'' Sayang, pengertian dari hadis tersebut baru sebatas wilayah fikih saja. Karena berbagai alasan, shalat acapkali hanya sekadar pelepas kewajiban belaka.
''Padahal shalatnya nabi itu adalah shalat yang bersih dari kedengkian, shalat untuk mengaplikasikan dalam hidup, shalat untuk menciptakan ukhkhuwwah, shalat untuk taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah, red),'' kata Pimpinan Pondok Pesantren Modern Lembah Arafah Cisarua, Bogor, KH Anwar Sanusi.
Kepada Damanhuri Zuhri dari Republika, kiai yang aktif memberi ceramah agama di layar televisi ini mengingatkan pentingnya pemahaman shalat untuk mencapai kekhusyukan. Berikut ini petikannya:
Menurut definisi Anda, apa yang dimaksud dengan shalat khusyuk?
Khusyuk artinya tertuju, tidak terpecah-pecah. Kalau khusyuk dalam shalat artinya tujuan hidup kita setelah shalat itu hanyalah untuk Allah. Itu sebabnya waktu shalat apa yang kita praktekkan nanti dibaca dalam shalat. Dan Allah menyaksikan. Shalat itu kan apel rutin kita kepada Allah. Konsekuensi kita kepada Islam adalah taslim (penyerahan, red), ya pada waktu shalat itu. Makanya kalau setelah shalat tidak mengamalkan apa yang kita baca berarti shalat apa itu?
Khusyuk dan tidaknya shalat, berada pada wilayah sufi. Bahwa shalat itu ada para wilayah fikih, iya, tapi dia juga masuk dalam wilayah tasawuf. Kalau yang fikihnya saja benar, tapi yang sebelahnya tidak benar, maka shalatnya benar tapi tidak khusyuk. Kalau tasawufnya benar, tapi secara fikih tidak benar, maka shalatnya khusyuk tapi tidak benar. Jadi kedua-duanya harus benar, kedua-duanya harus terpenuhi.
Mengapa khusyuk menjadi sangat penting dalam pelaksanaan rukun Islam kedua ini?
Aplikasi seseorang bisa dilihat dari shalat. Nabi Muhammad SAW berkata, banyak orang shalat sebenarnya dia tidak shalat. Arti hadisnya, ''Akan datang satu zaman pada umatku seorang muadzdzin yang mengumandangkan adzan dari dalam masjid mereka datang ke masjid buat shalat berjamaah, takbirnya, iftitah-nya, Fatihah-nya, rukunya, sujudnya, dan shalatnya sama, tapi di hadapan Allah umatku yang shalat ke masjid itu tidak satu pun sebagai hamba yang disebut pantas beriman kepadaku.'' Kenapa demikian? Memang selama ini kita melihat orang yang shalat itu adalah orang yang beriman. Jawabannya ada pada Alquran Surat Al Mukminun dari ayat 1 dan 2: ''Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam sembahyangnya.'' Aplikasinya, selesai shalat diamalkan apa yang dibaca dalam shalat.
Sekarang saya mau tanya: berapa banyak umat Islam yang shalat, waktu shalat takbirnya keras tapi selesai shalat takaburnya juga keras? Berapa banyak umat Islam yang shalat berjamaah di masjid shaf-nya rata tapi sesudah keluar masjid kemudian bercerai berai bahkan saling fitnah? Artinya, dia belum shalat kalau begitu.
Kedua, orang-orang yang tidak senang berkata sia-sia. Berapa banyak para pejabat sekarang yang shalatnya rajin tapi maksiat jalan terus. Ketiga, orang yang selalu menjaga tubuhnya agar selalu bersih dengan menunaikan zakat. Tapi, berapa banyak umat Islam sekarang waktu shalat dia sebagai Muslim tapi ketika menjadi pegawai, dia menjadi Yahudi?
Keempat, orang-orang yang pandai menjaga kehormatannya. Dalam ajaran Islam orang shalat tapi berzina, dia tidak punya iman. Jadi, tidak mungkin orang beriman, lalu shalat, kemudian melakukan zina. Nah, sekarang orang rata-rata shalat maupun shalat di Kabah mau membersihkan diri kemudian di Indonesia membuat dosa lagi. Buat membersihkan diri dia pergi umrah. Di Masjidil Haram, di depan Kabah menangis tersedu-sedu, begitu keluar Kabah balik ke kondisi semula.
Itu sebabnya, shalluu kamaa ra aytumuuni ushalli (shalatlah seperti kalian melihat aku melakukan shalat). Selama ini kita memperhatikan "jurus" fikihnya saja, 'shalat seperti aku shalat'. Padahal shalatnya nabi itu shalat yang bersih dari kedengkian, shalat untuk mengaplikasikan, shalat untuk menciptakan ukuwah, shalat untuk takarrub ilallah. Masalah-masalah ini yang tidak pernah dibahas.
Sisi fikihnya yang lebih diperhatikan ya?
Ya. Karena apa? Karena memang unsur pelajaran fikih sangat dominan pada saat belajar di waktu muda dulu. Jadi, agama itu kita anggap fikih. Padahal fikih itu ilmu sosial. Dalam hadis di atas, artinya segala aspek yang dilakukan itu mendatangkan kekhusyukan. Kita lihat para sahabat yang shalat di belakang Rasulullah. Andaikata mereka tertebas oleh pedang mereka tidak akan terasa karena sedang shalat. Ali bin Abi Thalib pernah terpanah tangannya oleh orang kafir. Ali meraung-raung karena panah orang kafir itu memang sakit. Kata Umar bin Khaththab supaya tidak sakit panahnya kita cabut waktu Ali sedang shalat.
Bagaimana caranya agar shalat kita menjadi khusyuk?
Di atas segalanya, untuk mendapatkan shalat yang khusyuk, pertama darah dan daging kita tidak boleh terkontaminasi barang haram. Kalau sudah bicara masalah makanan haram, daging yang kita makan haram, minuman yang kita minum haram, lalu shalat menghadap kepada Allah, bagaimana bisa sesuatu yang haram menghadap kepada zat yang Mahasuci? Itu yang menyebabkan shalat kita selama ini tidak pernah khusyuk. Kenapa para ulama yang rezekinya sederhana shalatnya khusyuk? Kenapa para pejabat yang banyak hartanya tidak khusyuk dalam shalat? Mari kita muhasabah.
KH Anwar Sanusi:
Ingin Khusyuk? Hindari yang Haram!
Hadis Rasulullah SAW yang berbunyi, ''Shalluu kamaa ra-aytummuni ushalli (shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku melakukan shalat).'' Sayang, pengertian dari hadis tersebut baru sebatas wilayah fikih saja. Karena berbagai alasan, shalat acapkali hanya sekadar pelepas kewajiban belaka.
''Padahal shalatnya nabi itu adalah shalat yang bersih dari kedengkian, shalat untuk mengaplikasikan dalam hidup, shalat untuk menciptakan ukhkhuwwah, shalat untuk taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah, red),'' kata Pimpinan Pondok Pesantren Modern Lembah Arafah Cisarua, Bogor, KH Anwar Sanusi.
Kepada Damanhuri Zuhri dari Republika, kiai yang aktif memberi ceramah agama di layar televisi ini mengingatkan pentingnya pemahaman shalat untuk mencapai kekhusyukan. Berikut ini petikannya:
Menurut definisi Anda, apa yang dimaksud dengan shalat khusyuk?
Khusyuk artinya tertuju, tidak terpecah-pecah. Kalau khusyuk dalam shalat artinya tujuan hidup kita setelah shalat itu hanyalah untuk Allah. Itu sebabnya waktu shalat apa yang kita praktekkan nanti dibaca dalam shalat. Dan Allah menyaksikan. Shalat itu kan apel rutin kita kepada Allah. Konsekuensi kita kepada Islam adalah taslim (penyerahan, red), ya pada waktu shalat itu. Makanya kalau setelah shalat tidak mengamalkan apa yang kita baca berarti shalat apa itu?
Khusyuk dan tidaknya shalat, berada pada wilayah sufi. Bahwa shalat itu ada para wilayah fikih, iya, tapi dia juga masuk dalam wilayah tasawuf. Kalau yang fikihnya saja benar, tapi yang sebelahnya tidak benar, maka shalatnya benar tapi tidak khusyuk. Kalau tasawufnya benar, tapi secara fikih tidak benar, maka shalatnya khusyuk tapi tidak benar. Jadi kedua-duanya harus benar, kedua-duanya harus terpenuhi.
Mengapa khusyuk menjadi sangat penting dalam pelaksanaan rukun Islam kedua ini?
Aplikasi seseorang bisa dilihat dari shalat. Nabi Muhammad SAW berkata, banyak orang shalat sebenarnya dia tidak shalat. Arti hadisnya, ''Akan datang satu zaman pada umatku seorang muadzdzin yang mengumandangkan adzan dari dalam masjid mereka datang ke masjid buat shalat berjamaah, takbirnya, iftitah-nya, Fatihah-nya, rukunya, sujudnya, dan shalatnya sama, tapi di hadapan Allah umatku yang shalat ke masjid itu tidak satu pun sebagai hamba yang disebut pantas beriman kepadaku.'' Kenapa demikian? Memang selama ini kita melihat orang yang shalat itu adalah orang yang beriman. Jawabannya ada pada Alquran Surat Al Mukminun dari ayat 1 dan 2: ''Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam sembahyangnya.'' Aplikasinya, selesai shalat diamalkan apa yang dibaca dalam shalat.
Sekarang saya mau tanya: berapa banyak umat Islam yang shalat, waktu shalat takbirnya keras tapi selesai shalat takaburnya juga keras? Berapa banyak umat Islam yang shalat berjamaah di masjid shaf-nya rata tapi sesudah keluar masjid kemudian bercerai berai bahkan saling fitnah? Artinya, dia belum shalat kalau begitu.
Kedua, orang-orang yang tidak senang berkata sia-sia. Berapa banyak para pejabat sekarang yang shalatnya rajin tapi maksiat jalan terus. Ketiga, orang yang selalu menjaga tubuhnya agar selalu bersih dengan menunaikan zakat. Tapi, berapa banyak umat Islam sekarang waktu shalat dia sebagai Muslim tapi ketika menjadi pegawai, dia menjadi Yahudi?
Keempat, orang-orang yang pandai menjaga kehormatannya. Dalam ajaran Islam orang shalat tapi berzina, dia tidak punya iman. Jadi, tidak mungkin orang beriman, lalu shalat, kemudian melakukan zina. Nah, sekarang orang rata-rata shalat maupun shalat di Kabah mau membersihkan diri kemudian di Indonesia membuat dosa lagi. Buat membersihkan diri dia pergi umrah. Di Masjidil Haram, di depan Kabah menangis tersedu-sedu, begitu keluar Kabah balik ke kondisi semula.
Itu sebabnya, shalluu kamaa ra aytumuuni ushalli (shalatlah seperti kalian melihat aku melakukan shalat). Selama ini kita memperhatikan "jurus" fikihnya saja, 'shalat seperti aku shalat'. Padahal shalatnya nabi itu shalat yang bersih dari kedengkian, shalat untuk mengaplikasikan, shalat untuk menciptakan ukuwah, shalat untuk takarrub ilallah. Masalah-masalah ini yang tidak pernah dibahas.
Sisi fikihnya yang lebih diperhatikan ya?
Ya. Karena apa? Karena memang unsur pelajaran fikih sangat dominan pada saat belajar di waktu muda dulu. Jadi, agama itu kita anggap fikih. Padahal fikih itu ilmu sosial. Dalam hadis di atas, artinya segala aspek yang dilakukan itu mendatangkan kekhusyukan. Kita lihat para sahabat yang shalat di belakang Rasulullah. Andaikata mereka tertebas oleh pedang mereka tidak akan terasa karena sedang shalat. Ali bin Abi Thalib pernah terpanah tangannya oleh orang kafir. Ali meraung-raung karena panah orang kafir itu memang sakit. Kata Umar bin Khaththab supaya tidak sakit panahnya kita cabut waktu Ali sedang shalat.
Bagaimana caranya agar shalat kita menjadi khusyuk?
Di atas segalanya, untuk mendapatkan shalat yang khusyuk, pertama darah dan daging kita tidak boleh terkontaminasi barang haram. Kalau sudah bicara masalah makanan haram, daging yang kita makan haram, minuman yang kita minum haram, lalu shalat menghadap kepada Allah, bagaimana bisa sesuatu yang haram menghadap kepada zat yang Mahasuci? Itu yang menyebabkan shalat kita selama ini tidak pernah khusyuk. Kenapa para ulama yang rezekinya sederhana shalatnya khusyuk? Kenapa para pejabat yang banyak hartanya tidak khusyuk dalam shalat? Mari kita muhasabah.
Tuesday, February 19, 2008
Refleksi Prie GS 11/02/08
Jurus Menghibur Diri
Tak terbayangkan betapa berat beban hidup ini jika manusia tak dilengkapi dengan kemampuan menghibur diri. Lihatlah jumlah penderitaan itu, sejauh-jauh mata memandang, rasanya manusia cuma akan melihat derita dan persoalan. Lihatlah daftarpersoalan itu, sambung-menyambung tanpa henti mulai lahir sampai mati. Tetapi jika hidup cuma berisi penderitaan, manusia pasti tak kuat bertahan. Begitu lahir, ia pasti akan langsung mati. Setengah dari hidup itu, pastilah berisi sang kebalikan. Maka antara derita dan kegembiraan, pasti sama banyaknya. Inilahlah yang membuat bahkan filsuf seperti Sartre kebingungan. Fakta bahwa manusia bisa bertahan hidup tanpa bunuh diri itu saja baginya sudah amat mengherankan.Ya, banyak orang tergoda untuk mati karena daftar derita yang tak ada rampung-rampungnya. Tapi fakta bahwa jauh lebih banyak orang berani hidup katimbang berani mati juga bukti yang nyata bahwa di dalam hidup, seseorang boleh bergembira kapan saja dia mau, karena kegembiraan itu jumlahnya tak terhingga dan tinggal memungut begitu saja. Salah satu pintu kegembiraan itu adalah kemampuan menghibur diri seperti yang telah saya sebutkan. Dan jujur saja, hingga saat ini, jurus menghibur ini menolong saya dari bermacam-macam persoalan. Saya tidak malu disebut sebagai suka menghibur diri atas banyak kegagalan. Jika setelah gagal saya
tak boleh menghibur diri, tak akan pernah bisa saya melahirkan kolom ini.
Misalnya saja ketika saya memiliki sepetak tanah, kecil saja, yang saya beli dengan menabung serupiah demi serupiah, tetapi ternyata suratnya tak juga rampung selama bertahun-tahun. Geram belaka bawaan saya setiap mengingatnya. Setiap melihat tanah ini bukannya seperti melihat harta karun, melainkan malah seperti melihat sumber kegeraman. Lalu apa yang saya lakukan? Tanah itu pelan-pelang saya buang dari pikiran. Tanah itu tetap di tempatnya, tetapi lokasi di pikiran saya telah berubah. Katimbang menatap tanah itu, saya lebih suka menatap gunung-gunung di sekitar yang terlihat dari rumah saya. Saya suka naik ke atas rumah dan
menengadah melihat langit. Waa.. dunia ini luas sekali.
Begitu luasnya sehingga menempatkan pikiran hanya untuk berpikir tentang tanah secuil itu sungguh merupakan ketololan. Saya mengembangkan dada seluas yang saya bisa. Saya berjanji kepada diri sendiri, bahwa tanah itu terlalu kecil untuk dipikirkan. Kalau perlu saya akan membeli pantai, membeli gunung dan lautan sebagai gantinya. Saya tidak tahu apakah keinginan saya ini masuk akal. Tetapi baru memikirkan keinginan ini saja hati saya sudah gembira luar biasa. Hati itu tiba-tiba terbimbing untuk menuju keumungkinan-kemungkinan yang luas tanpa batas. Hati dan pikiran itu akhirnya tidak cuma tergadai untuk soal-soal yang terlalu
remeh jika badingannya adalah seluruh hidup kita.
Maka setiap memandangi tanah itu, saya tidak lagi terpaku pada surat-suratnya yang hingga tulisan ini saya buat belum rampung juga, melainkan malah seperti melihat seorang yang menegur saya untuk mau terbang lebih tinggi, untuk lari lebih kencang, untuk membeli apa saja karena dunia menyediakan apa saja jika saya menginginkan. Ya, banyak sekali soal-soal sederhana yang kita biarkan menyita hampir seluruh pikran padahal ia murah sekali jika bandingannya adalah seluruh dari kehidupan.
--Prie GS--
Wednesday, February 13, 2008
Why good things happen to good people ?
Saya bertemu dengan mantan bos saya, seminggu yang lalu, kami terlibat percakapan seru masalah karir TDB, alhamdulillah sangat berguna bagi saya.....
Dan satu tips dari beliau adalah " Fan, ayo dong perbaiki bahasa inggris kamu.."
hehehe I hope it's not too late to learn english, so from now on. I will try using English as much as I can.
This is a good article from ustadz KH. Jalaludin Rakhmat that I want to share to you all..
Why good things happen to good people ?
“Seorang anak muda yang sangat miskin bekerja sebagai wiraniaga untuk membiayai uang kuliahnya. Pada suatu hari, ia sangat bingung karena ia hanya punya uang sepuluh sen saja, padahal ia sangat kelaparan. Ia memberanikan dirinya untuk minta makan pada tetangganya, tapi ia gugup ketika seorang nyonya yang perlente membuka pintu. Ia tidak jadi minta makanan. Ia minta segelas air saja.
Perempuan itu merasa bahwa anak muda itu dalam kesusahan. Ia berikan kepadanya segelas susu. Ia minum perlahan-lahan. Ia bertanya, “Berapa?”
“Anda tidak perlu bayar apa pun?” kata perempuan itu, “Ibuku mengajarkan untuk tidak menerima apa pun buat perbuatan baik
“Kalau begitu, terimakasih saya yang setulus-tulusnya,” katanya. Ketika anak muda itu meninggalkan rumah itu, ia merasa lebih bahagia dan keimanannya kepada Tuhan serta kepercayaannya kepada umat manusia menjadi lebih kuat.
Bertahun-tahun kemudian, nyonya yang baik itu jatuh sakit. Dokter-dokter tidak tahu persis apa penyakit yang dideritanya. Ia dikirim ke rumah sakit dan diserahkan kepada anak muda dulu yang kini sudah menjadi dokter. Ketika ia mendengar nama asal pasiennya, matanya bersinar dan mulai menduga-duga siapa dia. Ia mulai merawatnya dan segera mengenal sang nyonya. Ia bekerja keras untuk menyelamatkan nyawanya. Akhirnya, setelah perjuangan yang berat, perempuan itu sembuh.
Dokter itu meminta administrasi rumah sakit untuk menyampaikan kepadanya tagihan untuk ia setujui. Ia memperbaiki tagihan itu dan menandatanganinya. Di atas tagihan biaya rumah sakit itu ia menuliskan catatan kecil. Ia krimkan kembali kepada pasiennya. Perempuan itu tahu ia harus membayar tagihan itu selama sisa usianya. Walaupun ia bahagia karena telah disembuhkan, ia juga kuatir tidak bisa membayarnya. Ia membuka amplop dan terkejut ketika membaca tulisan di atas tagihan itu: “Tagihan ini sudah dibayar bertahun-tahun yang lalu dengan segelas susu- dr Howard.”
Tangisan kebahagiaan membasahi mukanya. Ia bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada dokter muda itu akan balasan kebaikannya.”
Cerita di atas dikirim ke alamat email saya. Pengirimnya adalah bagian dari organisasi internasional untuk menyebarkan kebaikan, The Random Acts of kindness Foundation. Saya terharu dengan perilaku perempuan elegan itu yang berempati dengan derita orang miskin yang tidak dikenalnya. Saya lebih terharu lagi dengan dokter muda yang menjadi tangan Tuhan; untuk membalas kebaikan sekecil apa pun dengan berlipat ganda.
Allah SWT berfirman dalam Surat Ar Rahman ayat 60
“Apalagi balasan perbuatan baik selain perbuatan baik lagi,”
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri “(QS Al Israa’ ayat 7)
Selanjutnya dalam An Naml ayat 89, Allah SWT berfirman :
Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu.”
Dalam Surat ke 53 An Najm ayat 31, Allah SWT berfirman
“Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga).
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah selalu menolong seorang hamba yang selalu menolong orang lain,”
“Barangsiapa melapangkan kesusahan (kesempitan) untuk seorang mukmin di dunia maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat dan barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR Muslim)
“Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan sama pahalanya seperti orang yang melakukannya”. (HR. Bukhari).
Alam ini diatur oleh hukum resiprositas, hukum balas- membalas. Sapa orang dengan tatapan kasih, dan ia akan menjawabmu dengan pelukan. Makilah kawan-kawanmu, dan mereka akan menyebarkan keburukanmu.
Mungkin Anda akan mengajukan keberatan. Mengapa orang yang kita bantu sering membalas air susu dengan air tuba? Pada saat seperti itu, ingatlah bahwa Tuhan tidak memilih orang itu sebagai tanganNya untuk membalas kebaikan Anda. Tapi ia pasti memilih tangan lain yang akan datang padamu dari orang yang tepat pada saat yang tepat.
Saya ingat kawan saya yang terkenal sangat dermawan. Pada waktu kecil, ayahnya mengumpulkan anak-anak miskin di kampungnya. Ia mendidik dan membesarkan mereka dengan dananya sendiri. Setiap hari ia harus bekerja sangat keras, sehingga sering melupakan anaknya sendiri. Ketika ia mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri, pada saat-saat kritis ia selalu memperoleh pertolongan dari orang-orang yang tidak dikenalnya. Tentu saja mereka bukan anak-anak asuh bapaknya. Tapi tetap saja mereka adalah tangan-tangan Tuhan yang dikrimkan kepadanya pada saat yang tepat.
Pada khotbahnya menyambut bulan Ramadhan, Nabi saw bersabda: “Sayangilah anak-anak yatim orang lain, nanti Tuhan akan sayang pada anak-anak yatim yang kamu tinggalkan. Bersedekahlah walaupun dengan seteguk air atau sebutir kurma.” Ia sedang mengajarkan kepada kita hukum reprositas.
I500 tahun sesudah itu, puluhan ribu mil jauhnya dari negeri Nabi, seorang dosen Fakultas Kedokteran di Case Western University membiayai dan melakukan penelitian-penelitian tentang manfaat memberi atau bersedekah bagi pelakunya. Ia telah menjadi tangan Tuhan untuk membuktikan kebenaran sabda Nabi.
Dengarkan kata-katanya: “Anda ingin bahagia? Ingin lebih Dicintai? Ingin Selamat? ingin lebih Sejahtera?
Anda ingin ketemu orang pada saat-saat kritis dan percaya pada dukungannya?
Anda ingin kehangatan hubungan yang sejati?
Anda ingin berjalan di dunia setiap hari dengan yakin bahwa inilah dunia yang penuh kebaikan dan harapan?
Aku punya satu jawaban: Memberi.
Berilah setiap hari walau sekedar senyummu, dan berikanlah pada setiap orang
Berilah setiap hari kebaikan apa saja, walaupun dalam jumlah kecil.
Berilah setiap hari kebaikan pada siapa saja, walaupun itu musuh anda.
Berilah, niscaya anda akan hidup lebih bahagia.
Berilah dan anda akan lebih sehat.
Berilah dan anda akan berusia lebih panjang.”
Dr Stephen Post, dosen itu, menuliskan hasil penelitiannya yang disimpulkan dalam judul bukunya Why Good Things Happen to Good People.
Mulailah dari diri anda sendiri, mulailah dari yang kecil dan mulailah sekarang juga. Selamat memberi (Ustadz KH Jalaluddin Rakhmat)
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat
Dan satu tips dari beliau adalah " Fan, ayo dong perbaiki bahasa inggris kamu.."
hehehe I hope it's not too late to learn english, so from now on. I will try using English as much as I can.
This is a good article from ustadz KH. Jalaludin Rakhmat that I want to share to you all..
Why good things happen to good people ?
“Seorang anak muda yang sangat miskin bekerja sebagai wiraniaga untuk membiayai uang kuliahnya. Pada suatu hari, ia sangat bingung karena ia hanya punya uang sepuluh sen saja, padahal ia sangat kelaparan. Ia memberanikan dirinya untuk minta makan pada tetangganya, tapi ia gugup ketika seorang nyonya yang perlente membuka pintu. Ia tidak jadi minta makanan. Ia minta segelas air saja.
Perempuan itu merasa bahwa anak muda itu dalam kesusahan. Ia berikan kepadanya segelas susu. Ia minum perlahan-lahan. Ia bertanya, “Berapa?”
“Anda tidak perlu bayar apa pun?” kata perempuan itu, “Ibuku mengajarkan untuk tidak menerima apa pun buat perbuatan baik
“Kalau begitu, terimakasih saya yang setulus-tulusnya,” katanya. Ketika anak muda itu meninggalkan rumah itu, ia merasa lebih bahagia dan keimanannya kepada Tuhan serta kepercayaannya kepada umat manusia menjadi lebih kuat.
Bertahun-tahun kemudian, nyonya yang baik itu jatuh sakit. Dokter-dokter tidak tahu persis apa penyakit yang dideritanya. Ia dikirim ke rumah sakit dan diserahkan kepada anak muda dulu yang kini sudah menjadi dokter. Ketika ia mendengar nama asal pasiennya, matanya bersinar dan mulai menduga-duga siapa dia. Ia mulai merawatnya dan segera mengenal sang nyonya. Ia bekerja keras untuk menyelamatkan nyawanya. Akhirnya, setelah perjuangan yang berat, perempuan itu sembuh.
Dokter itu meminta administrasi rumah sakit untuk menyampaikan kepadanya tagihan untuk ia setujui. Ia memperbaiki tagihan itu dan menandatanganinya. Di atas tagihan biaya rumah sakit itu ia menuliskan catatan kecil. Ia krimkan kembali kepada pasiennya. Perempuan itu tahu ia harus membayar tagihan itu selama sisa usianya. Walaupun ia bahagia karena telah disembuhkan, ia juga kuatir tidak bisa membayarnya. Ia membuka amplop dan terkejut ketika membaca tulisan di atas tagihan itu: “Tagihan ini sudah dibayar bertahun-tahun yang lalu dengan segelas susu- dr Howard.”
Tangisan kebahagiaan membasahi mukanya. Ia bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada dokter muda itu akan balasan kebaikannya.”
Cerita di atas dikirim ke alamat email saya. Pengirimnya adalah bagian dari organisasi internasional untuk menyebarkan kebaikan, The Random Acts of kindness Foundation. Saya terharu dengan perilaku perempuan elegan itu yang berempati dengan derita orang miskin yang tidak dikenalnya. Saya lebih terharu lagi dengan dokter muda yang menjadi tangan Tuhan; untuk membalas kebaikan sekecil apa pun dengan berlipat ganda.
Allah SWT berfirman dalam Surat Ar Rahman ayat 60
“Apalagi balasan perbuatan baik selain perbuatan baik lagi,”
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri “(QS Al Israa’ ayat 7)
Selanjutnya dalam An Naml ayat 89, Allah SWT berfirman :
Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu.”
Dalam Surat ke 53 An Najm ayat 31, Allah SWT berfirman
“Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga).
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah selalu menolong seorang hamba yang selalu menolong orang lain,”
“Barangsiapa melapangkan kesusahan (kesempitan) untuk seorang mukmin di dunia maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan dari kesusahan-kesusahan pada hari kiamat dan barangsiapa memudahkan kesukaran seseorang maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat” (HR Muslim)
“Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan sama pahalanya seperti orang yang melakukannya”. (HR. Bukhari).
Alam ini diatur oleh hukum resiprositas, hukum balas- membalas. Sapa orang dengan tatapan kasih, dan ia akan menjawabmu dengan pelukan. Makilah kawan-kawanmu, dan mereka akan menyebarkan keburukanmu.
Mungkin Anda akan mengajukan keberatan. Mengapa orang yang kita bantu sering membalas air susu dengan air tuba? Pada saat seperti itu, ingatlah bahwa Tuhan tidak memilih orang itu sebagai tanganNya untuk membalas kebaikan Anda. Tapi ia pasti memilih tangan lain yang akan datang padamu dari orang yang tepat pada saat yang tepat.
Saya ingat kawan saya yang terkenal sangat dermawan. Pada waktu kecil, ayahnya mengumpulkan anak-anak miskin di kampungnya. Ia mendidik dan membesarkan mereka dengan dananya sendiri. Setiap hari ia harus bekerja sangat keras, sehingga sering melupakan anaknya sendiri. Ketika ia mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri, pada saat-saat kritis ia selalu memperoleh pertolongan dari orang-orang yang tidak dikenalnya. Tentu saja mereka bukan anak-anak asuh bapaknya. Tapi tetap saja mereka adalah tangan-tangan Tuhan yang dikrimkan kepadanya pada saat yang tepat.
Pada khotbahnya menyambut bulan Ramadhan, Nabi saw bersabda: “Sayangilah anak-anak yatim orang lain, nanti Tuhan akan sayang pada anak-anak yatim yang kamu tinggalkan. Bersedekahlah walaupun dengan seteguk air atau sebutir kurma.” Ia sedang mengajarkan kepada kita hukum reprositas.
I500 tahun sesudah itu, puluhan ribu mil jauhnya dari negeri Nabi, seorang dosen Fakultas Kedokteran di Case Western University membiayai dan melakukan penelitian-penelitian tentang manfaat memberi atau bersedekah bagi pelakunya. Ia telah menjadi tangan Tuhan untuk membuktikan kebenaran sabda Nabi.
Dengarkan kata-katanya: “Anda ingin bahagia? Ingin lebih Dicintai? Ingin Selamat? ingin lebih Sejahtera?
Anda ingin ketemu orang pada saat-saat kritis dan percaya pada dukungannya?
Anda ingin kehangatan hubungan yang sejati?
Anda ingin berjalan di dunia setiap hari dengan yakin bahwa inilah dunia yang penuh kebaikan dan harapan?
Aku punya satu jawaban: Memberi.
Berilah setiap hari walau sekedar senyummu, dan berikanlah pada setiap orang
Berilah setiap hari kebaikan apa saja, walaupun dalam jumlah kecil.
Berilah setiap hari kebaikan pada siapa saja, walaupun itu musuh anda.
Berilah, niscaya anda akan hidup lebih bahagia.
Berilah dan anda akan lebih sehat.
Berilah dan anda akan berusia lebih panjang.”
Dr Stephen Post, dosen itu, menuliskan hasil penelitiannya yang disimpulkan dalam judul bukunya Why Good Things Happen to Good People.
Mulailah dari diri anda sendiri, mulailah dari yang kecil dan mulailah sekarang juga. Selamat memberi (Ustadz KH Jalaluddin Rakhmat)
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana - Semoga bermanfaat
Tuesday, February 12, 2008
Refleksi Prie GS 12/02/08
Lidah Simon Cowell
Dari kaget lama-lama menjadi takjub, itulah perasaan saya setiap melihat Simon Cowell bicara. Dunia tahu siapa orang ini, terutama penonton American Idol. Ia adalah salah seorang juri yang paling dibenci peserta karena kata-katanya. Jika rem, mulut Simon adalah rem blong. Ia akan menyambar apa saja yang ada di depannya meskipun taruhannya harus mati bersama. Itulah watak rem jika sudah blong. Tetapi bahwa Simon masih hidup sampai sekarang dan ia tidak dikeroyok massa, adalah fakta yang menakjubkan. Kesimpulannya, rem orang ini memang blong, tetapi ia pasti pengemudi yang hebat karena hingga kini masih selamat. Ia bukan cuma masih hidup, tapi juga kaya raya.
Pertama kali melihat gaya Simon bicara, bulu kuduk saya meremang. Bagaimana bisa ia demikian telengas memaki siapapun yang ada di depannya. Para peserta kontes Idol itu, adalah anak-anak muda yang masih rapuh. Kalah kontes saja sudah kesakitan luar biasa, apalagi kalah sambil dihina. Mereka akan habis dalam sekejab dilumat agresi dan destruksi Simon. Dan seluruh dari gaya Simon adalah kumpulan dari keduanya: ia tidak cuma mengagresi, tetapi juga mendestruksi. Bagaimana mungkin manusia setega itu dibiarkan hidup dan malah jadi juri, batin saya ngeri.
Tapi untunglah, dari ngeri saya berbalik geli. Eh, Tuhan pasti sedang menyodorkan teka-teki dengan menciptakan orang-orang seperti Simon ini. Pertama, sulit membayangkan American Idol tanpa kehadirannya. Maka Simon ini sesungguhnya pasti tidak jahat, melainkan sekadar terbiasa mengatakan kebenaran. Indonesia Idol menjadi kontes yang memukau, pasti karena dibangun dengan etos kebenaran semacam ini. Mencari yang benar itulah formulanya. Orde Baru, menjadi Orde yang tragis, pasti karena
sedikit saja waktu itu dari kita yang berani mengatakan kebenaran. Karena betapa tidak mudah memang, mengatakan yang benar kepada pemimpin, karena ia tidak selalu enak di pendengaran.
Simon menempuh cara sebaliknya. Ia tidak menjilat kepada penonton. Ia bukan tidak mengerti tips untuk ditepuki. Jika mau mudah saja baginya memancing tepukan. Tetapi hal itu tak ia lakukan, karena selalu ada jenis tepuk tangan yang bersilang jalan dengan kejujuran. Tepuk tangan fans terutama, pasti lebih bermodal perasaan katimbang kejujuran. Maka membayangkan Simon Cowell sebagai pihak yang jujur, pihak yang mau menjadikan dirinya sebagai korban demi kejujuran, membuat saya berubah pendirian. Orang ini, dikirim ke dunia pasti bukan untuk menyakiti sesama, melainkan untuk mengajari kita kuat sakit di hadapan kenyataan.
Karena kepada yang benar, Simon adalah seorang penyayang yang nyata. Adegan ini buktinya: ketika seorang peserta audisi ada yang begitu buruk nyanyiannya. Semua juri hendak meledak oleh tawa saat peserta perempuan ini membuka suaranya. Benar-benar lebih mirip ringkik kuda. Tetapi apa keputusan Simon? Ia tidak menjatuhkan vonis seperti biasa. Ia malah menyuruh peserta ini menata kembali diri. Ia tahu suara peserta ini tidak jelek. Ia sejatinya unik. Ia hanya salah baca terhadap dirinya sendiri. Ia memaksa dirinya menjadi orang lain. Ia salah melakukan identifikasi dan mencari peta pada idola yang keliru. ‘’Cari dan dengar lagu Dolly Parton, pelajari dan kembali ke sini,’’ perintah Simon.
Dan benar, setelah diingatkan akan Dolly Parton, peserta ini kembali ke medan audisi sebagai pribadi yang sama sekali berbeda. Ada nyawa terpendam dalam dirinya, dan nama Dolly parton membuat peta keunikan itu muncul nyata. Jelas, pekerjaan Simon adalah menunjukkan jalan, meskipun caranya bisa saja menyakitkan. Di sekitar kita, ada pribadi seperti Simon ini. Mungkin ia tidak hangat sebagai
teman, tidak artistik sebagai partner diskusi, terlalu ketus dan mudah menyakti, memuakkan sebagai pemimpin… tapi kuatlah menerima seluruh kesakitannya. Ia diam-diam sedang membimbing kita menemukan jalan.
Prie GS
Dari kaget lama-lama menjadi takjub, itulah perasaan saya setiap melihat Simon Cowell bicara. Dunia tahu siapa orang ini, terutama penonton American Idol. Ia adalah salah seorang juri yang paling dibenci peserta karena kata-katanya. Jika rem, mulut Simon adalah rem blong. Ia akan menyambar apa saja yang ada di depannya meskipun taruhannya harus mati bersama. Itulah watak rem jika sudah blong. Tetapi bahwa Simon masih hidup sampai sekarang dan ia tidak dikeroyok massa, adalah fakta yang menakjubkan. Kesimpulannya, rem orang ini memang blong, tetapi ia pasti pengemudi yang hebat karena hingga kini masih selamat. Ia bukan cuma masih hidup, tapi juga kaya raya.
Pertama kali melihat gaya Simon bicara, bulu kuduk saya meremang. Bagaimana bisa ia demikian telengas memaki siapapun yang ada di depannya. Para peserta kontes Idol itu, adalah anak-anak muda yang masih rapuh. Kalah kontes saja sudah kesakitan luar biasa, apalagi kalah sambil dihina. Mereka akan habis dalam sekejab dilumat agresi dan destruksi Simon. Dan seluruh dari gaya Simon adalah kumpulan dari keduanya: ia tidak cuma mengagresi, tetapi juga mendestruksi. Bagaimana mungkin manusia setega itu dibiarkan hidup dan malah jadi juri, batin saya ngeri.
Tapi untunglah, dari ngeri saya berbalik geli. Eh, Tuhan pasti sedang menyodorkan teka-teki dengan menciptakan orang-orang seperti Simon ini. Pertama, sulit membayangkan American Idol tanpa kehadirannya. Maka Simon ini sesungguhnya pasti tidak jahat, melainkan sekadar terbiasa mengatakan kebenaran. Indonesia Idol menjadi kontes yang memukau, pasti karena dibangun dengan etos kebenaran semacam ini. Mencari yang benar itulah formulanya. Orde Baru, menjadi Orde yang tragis, pasti karena
sedikit saja waktu itu dari kita yang berani mengatakan kebenaran. Karena betapa tidak mudah memang, mengatakan yang benar kepada pemimpin, karena ia tidak selalu enak di pendengaran.
Simon menempuh cara sebaliknya. Ia tidak menjilat kepada penonton. Ia bukan tidak mengerti tips untuk ditepuki. Jika mau mudah saja baginya memancing tepukan. Tetapi hal itu tak ia lakukan, karena selalu ada jenis tepuk tangan yang bersilang jalan dengan kejujuran. Tepuk tangan fans terutama, pasti lebih bermodal perasaan katimbang kejujuran. Maka membayangkan Simon Cowell sebagai pihak yang jujur, pihak yang mau menjadikan dirinya sebagai korban demi kejujuran, membuat saya berubah pendirian. Orang ini, dikirim ke dunia pasti bukan untuk menyakiti sesama, melainkan untuk mengajari kita kuat sakit di hadapan kenyataan.
Karena kepada yang benar, Simon adalah seorang penyayang yang nyata. Adegan ini buktinya: ketika seorang peserta audisi ada yang begitu buruk nyanyiannya. Semua juri hendak meledak oleh tawa saat peserta perempuan ini membuka suaranya. Benar-benar lebih mirip ringkik kuda. Tetapi apa keputusan Simon? Ia tidak menjatuhkan vonis seperti biasa. Ia malah menyuruh peserta ini menata kembali diri. Ia tahu suara peserta ini tidak jelek. Ia sejatinya unik. Ia hanya salah baca terhadap dirinya sendiri. Ia memaksa dirinya menjadi orang lain. Ia salah melakukan identifikasi dan mencari peta pada idola yang keliru. ‘’Cari dan dengar lagu Dolly Parton, pelajari dan kembali ke sini,’’ perintah Simon.
Dan benar, setelah diingatkan akan Dolly Parton, peserta ini kembali ke medan audisi sebagai pribadi yang sama sekali berbeda. Ada nyawa terpendam dalam dirinya, dan nama Dolly parton membuat peta keunikan itu muncul nyata. Jelas, pekerjaan Simon adalah menunjukkan jalan, meskipun caranya bisa saja menyakitkan. Di sekitar kita, ada pribadi seperti Simon ini. Mungkin ia tidak hangat sebagai
teman, tidak artistik sebagai partner diskusi, terlalu ketus dan mudah menyakti, memuakkan sebagai pemimpin… tapi kuatlah menerima seluruh kesakitannya. Ia diam-diam sedang membimbing kita menemukan jalan.
Prie GS
Monday, February 04, 2008
Alergi Hidup
Pagi ini saya sedang mencari-cari dokumen dibelantara email tahun 2006 :-), dokumennya masih entah dimana, malah ketemu email yang menarik...walaupun sudah lama, masih enak untuk di baca...
Kisah Alergi Hidup
Seorang pria mendatangi seorang Guru.
Katanya : "Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati".
Sang Guru tersenyum : "Oh, kamu sakit".
"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati".
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan : "Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama "Alergi Hidup". Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal,
kecewa dan menderita".
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku", kata sang Guru.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi", pria itu menolak tawaran sang Guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?", tanya Guru.
"Ya, memang saya sudah bosan hidup", jawab pria itu lagi.
"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini... Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang".
Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun.
Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai ! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu". Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata :
"Sayang, apa yang terjadi hari ini ? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku
sayang".
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya ?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu".
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan : "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami".
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan".
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !
--fanny--
Kisah Alergi Hidup
Seorang pria mendatangi seorang Guru.
Katanya : "Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati".
Sang Guru tersenyum : "Oh, kamu sakit".
"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati".
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan : "Kamu sakit. Penyakitmu itu bernama "Alergi Hidup". Ya, kamu alergi terhadap kehidupan. Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Usaha pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini ? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal,
kecewa dan menderita".
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku", kata sang Guru.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup lebih lama lagi", pria itu menolak tawaran sang Guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati ?", tanya Guru.
"Ya, memang saya sudah bosan hidup", jawab pria itu lagi.
"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini... Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisanya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang".
Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun.
Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai ! Tinggal satu malam dan satu hari ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu". Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis.
Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat dua cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali dan berkata :
"Sayang, apa yang terjadi hari ini ? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku
sayang".
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya ?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya.
Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya sambil berkata : "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu".
Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan : "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami".
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya ?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi dan berkata : "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan".
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP !
--fanny--
Wednesday, January 23, 2008
Refleksi Prie GS 21/01/08
Teman Masa Kecilku
Pelajaran kepemimpinan yang kudapat pertama kali ternyata berasal dari teman-teman masa kecilku. Eloknya, mereka adakah teman-teman yang sangat ku kenang justru karena kenakalannya. Misalnya si A yang dikenal kikir. Terkenal sekali kemampuan anak ini dalam soal jajan tidak bayar. Jika masuk ke kantin sekolah ia seperti bebas makan apa saja. Jika kantin sedang ramai ia tinggal ngeloyor pergi sambil menbentak bahwa teman di sebelah yang sedang makan itulah yang nanti akan bayar. Jika kantin sedang sepi pembeli dan ia datang sendiri, ia tinggal bilang ngutang pada penjaganya, seorang ibu tua yang baik hati. Ngemplang? Tidak. Ia akan datang di lain kesempatan bersama rombongan dan salah satu di antaranya ia jebak untuk membayar hutangnya yang kemarin. Jika ia akan gantian dijebak, diajak jajan bersama dan dialah nanti yang harus membayar, ia memiliki ketangguhan untuk bertahan secara ekstra. Ia mengajak adu kuat, siapa yang nanti lebih dulu akan mengeluarkan uangnya. Jika semuanya bertahan sama kuat, ia akan berteriak pada pemilik kantin: ‘’Siapa yang nanti yang akan membayar,hanya Tuhan yang tahu,’’ katanya. Sudah tentu, salah satu dari kami terpaksa harus mengalah katimbang malu.
Kenapa anak ini selalu sukses menjalankan aksinya? Apakah karena begitu mudahnya kami ditipu? Tidak. Jika mau saat itu kami bisa mengeroyoknya dan memukulinya habis-habisan. Kami rela dikerjai karena kami gembira dengan ulahnya. Ia menipu kami tetapi dengan cara-cara yang lucu. Malah di sekolah anak ini jadi terkenal sekali. Gayanya menjadi bahan cerita di mana-mana. Belum lengkap rasanya menjadi murid sekolah kami jika belum pernah ditipu oleh anak ini. Dan setiap saat, para korban itu bisa saling bertukar cerita sebagai sebuah kegembiraan.
Inilah bibit leadership itu. Seorang pemimpin bisa jadi tidak ideal, bisa jadi ia nakal dan keliru perilaku. Tetapi apapun kebencian kita kepadanya, seperti ada yang menarik-barik kita untuk tetap takjub kepadanya. Tetapi inilah kehebatan pemimpin itu ternyata: betapapun ia keliru, jumlah kekeliruannya itu, setelah dihitung-hitung, selalu lebih kecil dibanding nilai kebaikannya. Si kikir ini,memiliki energi kegembiraan yang amat kami kenang hingga kami dewasa dan tersebar
di mana-mana. Apa yang kami keluarkan untuk tipuannya itu, rasanya kecil saja jika dibandingkan dengan kegembiraan kami saat mengenang kenakalannya.
Lepas dari si A saku terkenang pada B. Anak itu begitu pendiam dan bicara cuma kalau ditendang pantatnya. Tetapi cukup dengan sekali bicara ia akan langsung menggemparkan. Malah yang sering, ia tak perlu berkata-kata untuk menyulut kegemparan. Suatu kali kami, sekelompok anak-anak kampung ini menyambut riang gembira ketika Pak X datang dengan kerbaunya untuk di gembalakan di tanah lapang yang biasa. Entah bagaimana ceritanya, antara penggemabala dan kerbaunya itu,
adalah pihak yang amat kami sayangi. Sama-sama baik. Yang kerbau jinak dinaiki,yang penggembala dengan sabar membiarkan kami, anak-anak nakal ini untuk ramai-ramai naik ke punggung kerbaunya. Hewan itu sudah dewasa dan muat tiga sampai empat anak seusia kami.
Tak setiap hari Pak X datang ke lapangan kami. Maka hari-hari ia datang, amat kami tunggu dan kami hafali. Dengan gembira kami mengatur strategei bagaimana nanti cara naik ke punggung kerbau, dengan siapa yang akan menjadi tangaanya,berapa jumlah anak setiap ‘’kloter’’-nya, dan berapa lama kami ada di sana, mengingat jumlah kami banyak sekali. Begitu semangatnya kami menyiapkan manajemen naik kerbau ini dan lupa memperhitungkan B yang sejak awal cuma diam seperti arca.
Tahu apa yang terjadi? Begitu kerbau itu datang, begitu kami besorak-sorak gembira, begitu kami sudah saling hendak menyusun anak tangga, si B ini, tanpa diduga melangkah dengan pasti. Dengan sebatang ranting di tangan ia langsung membuat tindakan luar biasa gila: menyogrok dubur hewan baik hati itu. Kerbau yang semula manis itu langsung melonjak kaget dan menjadi kalap seketika. Seluruh anak-anak bubar, sang penggembala berteriak-teriak seperti orang gila dan si B
lenyap entah kemana. Apakah kami marah? Tidak! Kami tertawa tergelak-gelak dan menghormatinya oleh sebuah alasan yang entah. Tetapi yang jelas, di mata kami, keputusan yang dia ambil itu luar biasa. Tidak pernah kami pikir, dan kalau terpikir pun pasti bukan tindakan yang kami berani melakukannya.
Begitulah pemimpin. Ada sesuatu yang bisa jadi tidak selalu kita setujui, tetapi untuk sebuah alasan, sulit untuk tidak kita hormati. Hai penyogrok kerbau, dimanakah gerangan sekarang engkau!
--Prie GS--
Pelajaran kepemimpinan yang kudapat pertama kali ternyata berasal dari teman-teman masa kecilku. Eloknya, mereka adakah teman-teman yang sangat ku kenang justru karena kenakalannya. Misalnya si A yang dikenal kikir. Terkenal sekali kemampuan anak ini dalam soal jajan tidak bayar. Jika masuk ke kantin sekolah ia seperti bebas makan apa saja. Jika kantin sedang ramai ia tinggal ngeloyor pergi sambil menbentak bahwa teman di sebelah yang sedang makan itulah yang nanti akan bayar. Jika kantin sedang sepi pembeli dan ia datang sendiri, ia tinggal bilang ngutang pada penjaganya, seorang ibu tua yang baik hati. Ngemplang? Tidak. Ia akan datang di lain kesempatan bersama rombongan dan salah satu di antaranya ia jebak untuk membayar hutangnya yang kemarin. Jika ia akan gantian dijebak, diajak jajan bersama dan dialah nanti yang harus membayar, ia memiliki ketangguhan untuk bertahan secara ekstra. Ia mengajak adu kuat, siapa yang nanti lebih dulu akan mengeluarkan uangnya. Jika semuanya bertahan sama kuat, ia akan berteriak pada pemilik kantin: ‘’Siapa yang nanti yang akan membayar,hanya Tuhan yang tahu,’’ katanya. Sudah tentu, salah satu dari kami terpaksa harus mengalah katimbang malu.
Kenapa anak ini selalu sukses menjalankan aksinya? Apakah karena begitu mudahnya kami ditipu? Tidak. Jika mau saat itu kami bisa mengeroyoknya dan memukulinya habis-habisan. Kami rela dikerjai karena kami gembira dengan ulahnya. Ia menipu kami tetapi dengan cara-cara yang lucu. Malah di sekolah anak ini jadi terkenal sekali. Gayanya menjadi bahan cerita di mana-mana. Belum lengkap rasanya menjadi murid sekolah kami jika belum pernah ditipu oleh anak ini. Dan setiap saat, para korban itu bisa saling bertukar cerita sebagai sebuah kegembiraan.
Inilah bibit leadership itu. Seorang pemimpin bisa jadi tidak ideal, bisa jadi ia nakal dan keliru perilaku. Tetapi apapun kebencian kita kepadanya, seperti ada yang menarik-barik kita untuk tetap takjub kepadanya. Tetapi inilah kehebatan pemimpin itu ternyata: betapapun ia keliru, jumlah kekeliruannya itu, setelah dihitung-hitung, selalu lebih kecil dibanding nilai kebaikannya. Si kikir ini,memiliki energi kegembiraan yang amat kami kenang hingga kami dewasa dan tersebar
di mana-mana. Apa yang kami keluarkan untuk tipuannya itu, rasanya kecil saja jika dibandingkan dengan kegembiraan kami saat mengenang kenakalannya.
Lepas dari si A saku terkenang pada B. Anak itu begitu pendiam dan bicara cuma kalau ditendang pantatnya. Tetapi cukup dengan sekali bicara ia akan langsung menggemparkan. Malah yang sering, ia tak perlu berkata-kata untuk menyulut kegemparan. Suatu kali kami, sekelompok anak-anak kampung ini menyambut riang gembira ketika Pak X datang dengan kerbaunya untuk di gembalakan di tanah lapang yang biasa. Entah bagaimana ceritanya, antara penggemabala dan kerbaunya itu,
adalah pihak yang amat kami sayangi. Sama-sama baik. Yang kerbau jinak dinaiki,yang penggembala dengan sabar membiarkan kami, anak-anak nakal ini untuk ramai-ramai naik ke punggung kerbaunya. Hewan itu sudah dewasa dan muat tiga sampai empat anak seusia kami.
Tak setiap hari Pak X datang ke lapangan kami. Maka hari-hari ia datang, amat kami tunggu dan kami hafali. Dengan gembira kami mengatur strategei bagaimana nanti cara naik ke punggung kerbau, dengan siapa yang akan menjadi tangaanya,berapa jumlah anak setiap ‘’kloter’’-nya, dan berapa lama kami ada di sana, mengingat jumlah kami banyak sekali. Begitu semangatnya kami menyiapkan manajemen naik kerbau ini dan lupa memperhitungkan B yang sejak awal cuma diam seperti arca.
Tahu apa yang terjadi? Begitu kerbau itu datang, begitu kami besorak-sorak gembira, begitu kami sudah saling hendak menyusun anak tangga, si B ini, tanpa diduga melangkah dengan pasti. Dengan sebatang ranting di tangan ia langsung membuat tindakan luar biasa gila: menyogrok dubur hewan baik hati itu. Kerbau yang semula manis itu langsung melonjak kaget dan menjadi kalap seketika. Seluruh anak-anak bubar, sang penggembala berteriak-teriak seperti orang gila dan si B
lenyap entah kemana. Apakah kami marah? Tidak! Kami tertawa tergelak-gelak dan menghormatinya oleh sebuah alasan yang entah. Tetapi yang jelas, di mata kami, keputusan yang dia ambil itu luar biasa. Tidak pernah kami pikir, dan kalau terpikir pun pasti bukan tindakan yang kami berani melakukannya.
Begitulah pemimpin. Ada sesuatu yang bisa jadi tidak selalu kita setujui, tetapi untuk sebuah alasan, sulit untuk tidak kita hormati. Hai penyogrok kerbau, dimanakah gerangan sekarang engkau!
--Prie GS--
Wednesday, January 16, 2008
Today is a big day
Assalamualaikum Wr. Wb.
Hari ini akan menentukan karir saya di TDB, mohon doanya yach.....
Wassalammualaikum wr. wb
-Fanny-
Hari ini akan menentukan karir saya di TDB, mohon doanya yach.....
Wassalammualaikum wr. wb
-Fanny-
Tuesday, January 15, 2008
Refleksi Prie GS 15/01/08
Refleksi dari suhu saya ini, sangat sayang sekali apabila tidak di sharing dengan yang lainnya. Refleksi dari mas Prie ini akan selalu saya post, didalam blog saya, apabila ada kabar terbaru dari beliau.
Nonton Konser Bee Gees
Di sebuah waktu luang seharian saya membongkar-bongkar barang-barang lama. Saya membaca ulang buku-buku lama, menonton rekaman DVD lama. Saya membaca ulang novel Max Havelaar yang saya beli tapi tidak pernah saya baca dengan seksama. Aduh, berdosa benar saya. Buku itu ternyata sastra
luar biasa. Sebuah novel sejarah yang mencekam. Dan gaya Multatuli alias Douwes Dekker itu dalam bercerita, benar-benar bergelora ketika saya dengan teliti menyimaknya. Sinis, lucu, cerdas. Tergelak-gelak saya dibuatnya dan bodoh benar saya bahwa humor seperti ini pernah saya biarkan teronggok begitu lama.
Buku ini dibuka dengan narasi seorang pedagang yang pikirannya cuma melulu kepada uang. Maka seluruh soal yang tidak mendatangkan uang ia cibir habis-habisan termasuk kesenian. Kepada
sepotong sajak yang mengatakan: udara hitam pekat… dan waktu sudah jam empat, misalnya, ia umpat sebagai kebohongan. ‘’Mana mungkin ada udara sudah hitam pekat tepat pada jam empat. Bisa jadi waktu itu baru pukul tiga seperempat,’’ begitulah kira-kira rasa sinisnya.
Saya baca ulang buku-buku Kahlil Gibran. Kecil, tipis, murah dan seperti barang tak berharga. Tapi ya ampun, baru membuka selembar halamannya saja, saya seperti terlempar di sebuah galaksi yang jauh. Ia langsung menggedor saya: suka cita tak lebih adalah duka yang telah terbuka kedoknya, katanya. Sangar benar penyair ini! Baru satu kalimat. Padahal seluruh buku itu berisi ribuan kata yang semuanya tak selalu saya mengerti tapi entah kenapa kenindahannya terasa di hati.
Saya menonton ulang biografi Muhammad Ali. Edan, keberanian orang ini keterlaluan. Di depan wartawan, saat ia hendak menantang juara dunia ia tidak cuma menjawab, tetapi juga bertanya. ‘’Apa kabar Sony Liston? Apa dia masih jelek? Juara dunia harus ganteng seperti saya!’’
teriaknya. Ali tidak cuma berani berkelahi, tetapi juga berani disalahpahmi. Dan keberanian itu melebar ke mana-mana hingga jauh di luar dunia tinju. Sendiri, ia menantang politik Amerika yang hendak mengirimnya ke Vietnam sebagai wajib militer. ‘’Tak ada alasan saya pergi untuk membunuh sesama orang miskin. Lagipula tak pernah ada Vietkong yang memangil saya Negro!’’ Untuk keyakinannya ini, ia merelakan gelar juaranya dicopot paksa dan terancam masuk penjara.
Meletup-letup gairah saya melihat keberanian semacam ini.
Saya lalu menonton ulang dokumentasi Bruce Lee. Wuaaah… pede-nya setengah mati. Kecil saja tubuhnya, tetapi seluruhnya seperti cuma terdiri atas otot. Itulah otot yang sanggup melahirkan teknik pukulan satu inchi yang fenomenal. Di dalam tubuh sekecil itu menggelegak nyali yang menyala-nyala. Ia taklukkan Amerika dengan pukulan satu inchi-nya dan memaksa orang-orang yang dua kali lipat tinggi tubuhnya harus datang sebagai murid.
Lalu saya nonton konser Bee Gees di Las Vegas. Haaa…. suara falset Gibb bersaudara yang sebetulnya aneh itu, menjelma sebagai koor yang memukau. Mereka telah menjadi para veteran. Si bungsu, Andi Gibb bahkan telah tiada saat konser itu berlangsung. Tetapi tenggorokan mereka seperti masih tetap sepeti sedia kala. Seluruh penonton hafal hingga titik koma lagu mereka. Tapi tidak pernah sekalipun orang-orang ini terpancing mengacungkan mikrofonnya ke arah penonton dan meminta untuk menirukan nyanyiannya. Di tengah lautan pemuja, orang-orang ini tidak sekalipun
tergoda berimprovisasi macam-macam cuma karena dorongan untuk bergaya.
Ada jenis penyanyi yang begitu mendengar tepuk tangan langsung lenyap kesadarannya lalu bergaya terlalu dini. Baru masuk intro sudah melenggak-lenggokkan lagunya sedemikian rupa. Penonton pasti tidak butuh ini. Penonton butuh lagu yang secara persis telah ada di benak mereka, dan Bee Gees mengerti hukum ini. Di tengah histeria pemuja, Bee Gees tampil lurus, patuh, tertip dan sederhana. Ini sungguh setara dengan orang kaya raya tetapi tetap hidup bersahaja. Sungguh tirakat batin yang berat, dan hanya para juara yang sanggup melakukannya.
Lalu saya nonton konsernya Guns N Roses. Wuaaa… urakan sekali AXL Roses itu. Kalau ia tetangga saya, bisa jadi saya sudah meminta Pak Lurah untuk mengusirnya. Tetapi ketika ia sudah berada di depan piano dan menyanyikan November Rain itu…. Ups! Saya boleh tidak menyukai orang ini secara pribadi tetapi saya tidak bisa untuk tidak menghormati bakatnya.
Terakhir: sebetulnya saya bukan sedang ingin membuat resensi buku dan pertunjukan. Saya cuma sedang ingin menunjukkan; ada banyak harta karun terpendam di rumah Anda. Bongkarlah dan temukan kebahagiaan yang terancam Anda lupakan!
-Prie GS-
Nonton Konser Bee Gees
Di sebuah waktu luang seharian saya membongkar-bongkar barang-barang lama. Saya membaca ulang buku-buku lama, menonton rekaman DVD lama. Saya membaca ulang novel Max Havelaar yang saya beli tapi tidak pernah saya baca dengan seksama. Aduh, berdosa benar saya. Buku itu ternyata sastra
luar biasa. Sebuah novel sejarah yang mencekam. Dan gaya Multatuli alias Douwes Dekker itu dalam bercerita, benar-benar bergelora ketika saya dengan teliti menyimaknya. Sinis, lucu, cerdas. Tergelak-gelak saya dibuatnya dan bodoh benar saya bahwa humor seperti ini pernah saya biarkan teronggok begitu lama.
Buku ini dibuka dengan narasi seorang pedagang yang pikirannya cuma melulu kepada uang. Maka seluruh soal yang tidak mendatangkan uang ia cibir habis-habisan termasuk kesenian. Kepada
sepotong sajak yang mengatakan: udara hitam pekat… dan waktu sudah jam empat, misalnya, ia umpat sebagai kebohongan. ‘’Mana mungkin ada udara sudah hitam pekat tepat pada jam empat. Bisa jadi waktu itu baru pukul tiga seperempat,’’ begitulah kira-kira rasa sinisnya.
Saya baca ulang buku-buku Kahlil Gibran. Kecil, tipis, murah dan seperti barang tak berharga. Tapi ya ampun, baru membuka selembar halamannya saja, saya seperti terlempar di sebuah galaksi yang jauh. Ia langsung menggedor saya: suka cita tak lebih adalah duka yang telah terbuka kedoknya, katanya. Sangar benar penyair ini! Baru satu kalimat. Padahal seluruh buku itu berisi ribuan kata yang semuanya tak selalu saya mengerti tapi entah kenapa kenindahannya terasa di hati.
Saya menonton ulang biografi Muhammad Ali. Edan, keberanian orang ini keterlaluan. Di depan wartawan, saat ia hendak menantang juara dunia ia tidak cuma menjawab, tetapi juga bertanya. ‘’Apa kabar Sony Liston? Apa dia masih jelek? Juara dunia harus ganteng seperti saya!’’
teriaknya. Ali tidak cuma berani berkelahi, tetapi juga berani disalahpahmi. Dan keberanian itu melebar ke mana-mana hingga jauh di luar dunia tinju. Sendiri, ia menantang politik Amerika yang hendak mengirimnya ke Vietnam sebagai wajib militer. ‘’Tak ada alasan saya pergi untuk membunuh sesama orang miskin. Lagipula tak pernah ada Vietkong yang memangil saya Negro!’’ Untuk keyakinannya ini, ia merelakan gelar juaranya dicopot paksa dan terancam masuk penjara.
Meletup-letup gairah saya melihat keberanian semacam ini.
Saya lalu menonton ulang dokumentasi Bruce Lee. Wuaaah… pede-nya setengah mati. Kecil saja tubuhnya, tetapi seluruhnya seperti cuma terdiri atas otot. Itulah otot yang sanggup melahirkan teknik pukulan satu inchi yang fenomenal. Di dalam tubuh sekecil itu menggelegak nyali yang menyala-nyala. Ia taklukkan Amerika dengan pukulan satu inchi-nya dan memaksa orang-orang yang dua kali lipat tinggi tubuhnya harus datang sebagai murid.
Lalu saya nonton konser Bee Gees di Las Vegas. Haaa…. suara falset Gibb bersaudara yang sebetulnya aneh itu, menjelma sebagai koor yang memukau. Mereka telah menjadi para veteran. Si bungsu, Andi Gibb bahkan telah tiada saat konser itu berlangsung. Tetapi tenggorokan mereka seperti masih tetap sepeti sedia kala. Seluruh penonton hafal hingga titik koma lagu mereka. Tapi tidak pernah sekalipun orang-orang ini terpancing mengacungkan mikrofonnya ke arah penonton dan meminta untuk menirukan nyanyiannya. Di tengah lautan pemuja, orang-orang ini tidak sekalipun
tergoda berimprovisasi macam-macam cuma karena dorongan untuk bergaya.
Ada jenis penyanyi yang begitu mendengar tepuk tangan langsung lenyap kesadarannya lalu bergaya terlalu dini. Baru masuk intro sudah melenggak-lenggokkan lagunya sedemikian rupa. Penonton pasti tidak butuh ini. Penonton butuh lagu yang secara persis telah ada di benak mereka, dan Bee Gees mengerti hukum ini. Di tengah histeria pemuja, Bee Gees tampil lurus, patuh, tertip dan sederhana. Ini sungguh setara dengan orang kaya raya tetapi tetap hidup bersahaja. Sungguh tirakat batin yang berat, dan hanya para juara yang sanggup melakukannya.
Lalu saya nonton konsernya Guns N Roses. Wuaaa… urakan sekali AXL Roses itu. Kalau ia tetangga saya, bisa jadi saya sudah meminta Pak Lurah untuk mengusirnya. Tetapi ketika ia sudah berada di depan piano dan menyanyikan November Rain itu…. Ups! Saya boleh tidak menyukai orang ini secara pribadi tetapi saya tidak bisa untuk tidak menghormati bakatnya.
Terakhir: sebetulnya saya bukan sedang ingin membuat resensi buku dan pertunjukan. Saya cuma sedang ingin menunjukkan; ada banyak harta karun terpendam di rumah Anda. Bongkarlah dan temukan kebahagiaan yang terancam Anda lupakan!
-Prie GS-
Wednesday, January 09, 2008
Mari Memperindah Taman...
Ada cerita menarik dari guru saya Roger Hamilton, ceritanya begini....
THE NET & THE GARDEN
The NET
You want to catch butterflies, so you decide to build a net. Surely, with a net you can catch them more easily! You read books on the subject and you practice skills in butterfly catching. You find that you are making improvements. Your net gets bigger and smarter and gradually you do catch more butterflies, but there is something wrong.
You find that after many years of this strategy you still need to wake up every day and go out to catch more butterflies. You need to hold on to the butterflies you have caught or they will fly away just as quickly. The more butterflies you have, the more difficult they are to hold on to. You are constantly in fear that the butterflies will disappear or that someone with a bigger net will beat you at your own game.
When the butterflies do disappear, you’re left with nothing. I know of many people who have become experts at sales, marketing,management and customer service yet still struggle to make money. We all know of people who have learnt the strategies of successful stock market traders,property investors and serial entrepreneurs yet are still left funding their losses.
They carefully follow the strategies they learn and then remain baffled as to why they do not attract the same opportunities, resources and sheer luck as their role models. These are people who are trying to make money without first building wealth.
They are trying to chase butterflies with a net.
The GARDEN
On the other hand, Wealth Creators don’t worry about building a net. Instead,they grow a garden. By focusing on creating an inspiring garden, they are growing something permanent around themselves. As the garden grows, the butterflies come. As time goes by, you find that the effort required to manage the garden falls as the number of butterflies rises. In fact, the butterflies, birds and bees end up pollinating your garden for you. You don’t fear butterflies leaving, as
there are always more coming.
If anyone takes your butterflies away, there will be more the next day. Every successful Wealth Creator is focused entirely on building their wealth foundation rather than their moneymaking activities. They build a reputation, a powerful network, a knowledge base, a resource base and a track record. This is their garden, and it is built not around their expertise, but around their passion,their path and their purpose. Every day, they wake up to their garden, not to an
empty net.
In a recent speech to a group of students, Warren Buffett said:
“I may have more money than you, but money doesn’t make the difference. If there is any difference between you and me, it may simply be that I get up and have a chance to do what I love to do, every day. If you learn anything from me, this is the best advice I can give you.”
-----
Marilah kita memperindah taman kita ...
Wassalam
-Fanny-
THE NET & THE GARDEN
The NET
You want to catch butterflies, so you decide to build a net. Surely, with a net you can catch them more easily! You read books on the subject and you practice skills in butterfly catching. You find that you are making improvements. Your net gets bigger and smarter and gradually you do catch more butterflies, but there is something wrong.
You find that after many years of this strategy you still need to wake up every day and go out to catch more butterflies. You need to hold on to the butterflies you have caught or they will fly away just as quickly. The more butterflies you have, the more difficult they are to hold on to. You are constantly in fear that the butterflies will disappear or that someone with a bigger net will beat you at your own game.
When the butterflies do disappear, you’re left with nothing. I know of many people who have become experts at sales, marketing,management and customer service yet still struggle to make money. We all know of people who have learnt the strategies of successful stock market traders,property investors and serial entrepreneurs yet are still left funding their losses.
They carefully follow the strategies they learn and then remain baffled as to why they do not attract the same opportunities, resources and sheer luck as their role models. These are people who are trying to make money without first building wealth.
They are trying to chase butterflies with a net.
The GARDEN
On the other hand, Wealth Creators don’t worry about building a net. Instead,they grow a garden. By focusing on creating an inspiring garden, they are growing something permanent around themselves. As the garden grows, the butterflies come. As time goes by, you find that the effort required to manage the garden falls as the number of butterflies rises. In fact, the butterflies, birds and bees end up pollinating your garden for you. You don’t fear butterflies leaving, as
there are always more coming.
If anyone takes your butterflies away, there will be more the next day. Every successful Wealth Creator is focused entirely on building their wealth foundation rather than their moneymaking activities. They build a reputation, a powerful network, a knowledge base, a resource base and a track record. This is their garden, and it is built not around their expertise, but around their passion,their path and their purpose. Every day, they wake up to their garden, not to an
empty net.
In a recent speech to a group of students, Warren Buffett said:
“I may have more money than you, but money doesn’t make the difference. If there is any difference between you and me, it may simply be that I get up and have a chance to do what I love to do, every day. If you learn anything from me, this is the best advice I can give you.”
-----
Marilah kita memperindah taman kita ...
Wassalam
-Fanny-
Monday, January 07, 2008
Doa.....
Mari kita doakan keduaorangtua kita dan anak-anak kita...
Segala puji bagi Allah yang telah memerintah kami untuk bersyukur dan berbuat baik kepada ibu dan bapak dan berwasiat agar kami menyayangi mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidik kami sewaktu kecil.
Ya Allah sayangilah kedua orang tua kami. Ampuni, rahmati dan ridhoilah mereka.
Ya Allah ampunilah mereka dengan ampunan yang menyeluruh yang dapat menghapus dosa-dosa mereka yang lampau dan perbuatan buruk yang terus menerus mereka lakukan.
Ya Allah berbuat baiklah kepada mereka sebanyak kebaikan mereka kepada kami setelah dilipatgandakan, dan pandanglah mereka dengan pandangan kasih sayang sebagaimana mereka dahulu memandang kami.
Ya Allah berilah mereka hak rububiyah-Mu yang telah mereka sia-siakan karena sibuk mendidik kami.
Ya Allah maafkanlah segala kekurangan mereka dalam mengabdi kepada-Mu karena mengutamakan kami dan maafkanlah mereka atas segala syubhat yang mereka jalani dalam usaha untuk menghidupi kami.
Segala puji dan syukur hanya untuk Allah Tuhan alam semesta. Ya Allah limpahkanlah solawat dan salam kepada Sayidina Muhammad, pembuka pintu rahmat Allah, Sebanyak pengetahuan Allah, solawat dan salam yang selalu tercurah sekekal kerajaan Allah, dan juga kepada keluarga dan para sahabatnya.
Ya Allah jadikanlah aku dan keturunanku orang-orang yang selalu mendirikan sholat, Ya Allah, kabulkanlah doaku.
Ya Allah jadikanlah isteri dan keturunan kami sebagai buah hati kami dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.
Ya Allah berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, dan agar aku dapat beramal soleh yang Engkau ridhoi, jadikanlah keturunanku orang-orang yang soleh, sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
Aku serahkan anak-anakku di bawah perlindungan kalimat Allah yang sempurna dari ganguan setan, mara bahaya dan dari pandangan yang penuh kedengkian.
Ya Allah berkahilah anak-anakku, janganlah Engkau celakan mereka, karuniailah aku ketaatan mereka, jadikanlah mereka buah hati Nabi Muhammad SAW dan kedua orang tua mereka.
Ya Allah berilah mereka ilmu para arifin, jadikanlah mereka faqih (alim) dalam agama, ajarkan kepada mereka pengetahuan takwil, dan tuntunlah mereka ke jalan yang lurus dan benar, dan jadikanlah mereka ulama yang mengamalkan ilmunya, dan masukkanlah mereka ke dalam golongan hamba-Mu yang saleh.
Ya Allah tumbuhkan mereka dengan sebaik-baik pertumbuhan, dan jadikanlah mereka orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk.
Ya Allah berilah mereka taufik untuk menyintai-Mu, mentaati-Mu dan mencari keri-dhoan-Mu. Ajarkanlah kepada mereka semua yang bermanfaat dan berilah mereka manfaat dari semua yang Kau ajarkan.
Ya Allah lindungilah mereka dari segala fitnah, baik yang nyata maupun tersembunyi, dan juga dari segala macam kejahatan.
Ya Allah mudahkanlah urusan mereka, dan perbaikilah keadaan, perbuatan dan niat mereka .
Ya Allah berilah mereka kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat.
Ya Allah bantulah mereka agar dapat mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baik amal ibadah.
Ya Allah akhirilah semua urusan mereka dengan keberhasilan dan selamatkanlah mereka dari kehinaan dunia dan akhirat.
Ya Allah jadikanlah pendengaran, pandangan dan kekuatan mereka menyenangi jalan petunjuk-Mu, dan jadikanlah hawa nafsu (keinginan) mereka patuh pada ajaran yang dibawa oleh kekasih-Mu Muhammad SAW.
Ya Allah selamatkanlah mereka, berilah kesehatan dan maafkanlah mereka, panjangkan umur mereka dalam ketaatan dan keridhoan-Mu, terimalah amal mereka, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Engkaulah yang patut megabulkan doa. Dan limpahkanlah solawat dan salam kepada Sayyida Muhammad SAW serta kepada para keluarga dan sahabatnya.
Walhamdulillaahi Rabbil ‘Alamin.
Segala puji bagi Allah yang telah memerintah kami untuk bersyukur dan berbuat baik kepada ibu dan bapak dan berwasiat agar kami menyayangi mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidik kami sewaktu kecil.
Ya Allah sayangilah kedua orang tua kami. Ampuni, rahmati dan ridhoilah mereka.
Ya Allah ampunilah mereka dengan ampunan yang menyeluruh yang dapat menghapus dosa-dosa mereka yang lampau dan perbuatan buruk yang terus menerus mereka lakukan.
Ya Allah berbuat baiklah kepada mereka sebanyak kebaikan mereka kepada kami setelah dilipatgandakan, dan pandanglah mereka dengan pandangan kasih sayang sebagaimana mereka dahulu memandang kami.
Ya Allah berilah mereka hak rububiyah-Mu yang telah mereka sia-siakan karena sibuk mendidik kami.
Ya Allah maafkanlah segala kekurangan mereka dalam mengabdi kepada-Mu karena mengutamakan kami dan maafkanlah mereka atas segala syubhat yang mereka jalani dalam usaha untuk menghidupi kami.
Segala puji dan syukur hanya untuk Allah Tuhan alam semesta. Ya Allah limpahkanlah solawat dan salam kepada Sayidina Muhammad, pembuka pintu rahmat Allah, Sebanyak pengetahuan Allah, solawat dan salam yang selalu tercurah sekekal kerajaan Allah, dan juga kepada keluarga dan para sahabatnya.
Ya Allah jadikanlah aku dan keturunanku orang-orang yang selalu mendirikan sholat, Ya Allah, kabulkanlah doaku.
Ya Allah jadikanlah isteri dan keturunan kami sebagai buah hati kami dan jadikanlah kami pemimpin orang-orang yang bertakwa.
Ya Allah berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, dan agar aku dapat beramal soleh yang Engkau ridhoi, jadikanlah keturunanku orang-orang yang soleh, sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.
Aku serahkan anak-anakku di bawah perlindungan kalimat Allah yang sempurna dari ganguan setan, mara bahaya dan dari pandangan yang penuh kedengkian.
Ya Allah berkahilah anak-anakku, janganlah Engkau celakan mereka, karuniailah aku ketaatan mereka, jadikanlah mereka buah hati Nabi Muhammad SAW dan kedua orang tua mereka.
Ya Allah berilah mereka ilmu para arifin, jadikanlah mereka faqih (alim) dalam agama, ajarkan kepada mereka pengetahuan takwil, dan tuntunlah mereka ke jalan yang lurus dan benar, dan jadikanlah mereka ulama yang mengamalkan ilmunya, dan masukkanlah mereka ke dalam golongan hamba-Mu yang saleh.
Ya Allah tumbuhkan mereka dengan sebaik-baik pertumbuhan, dan jadikanlah mereka orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk.
Ya Allah berilah mereka taufik untuk menyintai-Mu, mentaati-Mu dan mencari keri-dhoan-Mu. Ajarkanlah kepada mereka semua yang bermanfaat dan berilah mereka manfaat dari semua yang Kau ajarkan.
Ya Allah lindungilah mereka dari segala fitnah, baik yang nyata maupun tersembunyi, dan juga dari segala macam kejahatan.
Ya Allah mudahkanlah urusan mereka, dan perbaikilah keadaan, perbuatan dan niat mereka .
Ya Allah berilah mereka kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat.
Ya Allah bantulah mereka agar dapat mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baik amal ibadah.
Ya Allah akhirilah semua urusan mereka dengan keberhasilan dan selamatkanlah mereka dari kehinaan dunia dan akhirat.
Ya Allah jadikanlah pendengaran, pandangan dan kekuatan mereka menyenangi jalan petunjuk-Mu, dan jadikanlah hawa nafsu (keinginan) mereka patuh pada ajaran yang dibawa oleh kekasih-Mu Muhammad SAW.
Ya Allah selamatkanlah mereka, berilah kesehatan dan maafkanlah mereka, panjangkan umur mereka dalam ketaatan dan keridhoan-Mu, terimalah amal mereka, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Engkaulah yang patut megabulkan doa. Dan limpahkanlah solawat dan salam kepada Sayyida Muhammad SAW serta kepada para keluarga dan sahabatnya.
Walhamdulillaahi Rabbil ‘Alamin.
Apaan sih TDA...?
Ketika membuka blog saya dan melihat logo TDA, teman-teman saya langsung berdecak kagummm....wuihhhh keren, anggota TDA ya fan...hebat... tapi boleh nanya ngga? apaan sih TDA ? hahahaha.
Sedikit saya jelaskan TDA yach, ini juga saya kutip dari blog salah satu pendiri TDA.
Komunitas Bisnis Tangan Di Atas merupakan sebuah komunitas yang bercirikan kebersamaan dan action oriented.
Di dalam komunitas ini terdapat beberapa karakteristik komunitas yang sesuai dengan teori Carl Rogers yaitu actualizing tendency, organismic valuing, unconditional positive regard, positive self regard, ideal self, real self, self actualization, fully-functioning person.
Secara keseluruhan komunitas ini merupakan komunitas yang memberikan community centered therapy bagi anggotanya khususnya dalam bidang bisnis.
Mereka secara bersama-sama memberikan dukungan dan perhatian antara sesama anggotanya sehingga diharapkan seluruh anggota komunitas tersebut dapat mengakualisasikan dirinya menjadi seorang "enlightened millionaire".
Wassalam
-Fanny-
Sedikit saya jelaskan TDA yach, ini juga saya kutip dari blog salah satu pendiri TDA.
Komunitas Bisnis Tangan Di Atas merupakan sebuah komunitas yang bercirikan kebersamaan dan action oriented.
Di dalam komunitas ini terdapat beberapa karakteristik komunitas yang sesuai dengan teori Carl Rogers yaitu actualizing tendency, organismic valuing, unconditional positive regard, positive self regard, ideal self, real self, self actualization, fully-functioning person.
Secara keseluruhan komunitas ini merupakan komunitas yang memberikan community centered therapy bagi anggotanya khususnya dalam bidang bisnis.
Mereka secara bersama-sama memberikan dukungan dan perhatian antara sesama anggotanya sehingga diharapkan seluruh anggota komunitas tersebut dapat mengakualisasikan dirinya menjadi seorang "enlightened millionaire".
Wassalam
-Fanny-
Friday, January 04, 2008
Tahun Baru yang Penuh Berkah
Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk merasakan tahun 2008 ini untuk memperbaiki diri.
Awal tahun baru kemarin saya di beri berkah oleh ALLAH, saya diberikan sakit, dengan kategori lumayan berat hehe. Yang karenanya saya baru bisa posting lagi hari ini.
Dengan sakit itu saya jadi sering menyebut nama ALLAH, meskipun makna dari penyebutan nama ALLAH itu bukanlah seperti para kyai, para santri dan para alim ulama lain.
Menyebut nama ALLAH itu terlontar begitu saja...ya ALLAH sakit benar perut ini, ya ALLAH ya Rabb, pusing sekali kepala saya ini....
Saya masih disayang oleh ALLAH, agar terus menyebut nama ALLAH, kearah yang lebih bermakna....
Sungguh tahun baru yang penuh berkah.
Wassalam
Fanny
Awal tahun baru kemarin saya di beri berkah oleh ALLAH, saya diberikan sakit, dengan kategori lumayan berat hehe. Yang karenanya saya baru bisa posting lagi hari ini.
Dengan sakit itu saya jadi sering menyebut nama ALLAH, meskipun makna dari penyebutan nama ALLAH itu bukanlah seperti para kyai, para santri dan para alim ulama lain.
Menyebut nama ALLAH itu terlontar begitu saja...ya ALLAH sakit benar perut ini, ya ALLAH ya Rabb, pusing sekali kepala saya ini....
Saya masih disayang oleh ALLAH, agar terus menyebut nama ALLAH, kearah yang lebih bermakna....
Sungguh tahun baru yang penuh berkah.
Wassalam
Fanny
Subscribe to:
Posts (Atom)